Sabtu, 20 Oktober 2012

Tugas Ekonomi Koperasi - Koperasi Keluarga Guru Jakarta

             Mata kuliah Ekonomi Koperasi merupakan matkul pertama yang saya dapatkan ketika baru saja memasuki semester 3 dalam perkuliahan di Universitas Gunadarma tercinta ini, tepatnya dalam kelas menyenangkan bernama 2EA01 yang saat itu tengah "bermukim" di gedung 4 lantai 3 ruang 3B kampus E UG. Ekonomi Koperasi merupakan mata kuliah softskill, yang dalam kampus UG hanya mendapat kesempatan sebulan sekali untuk bertatap muka dengan dosen. Namun sedikitnya frekuensi pertemuan dengan dosen tak memudarkan manfaat dari mata kuliah ini, tentu saja. Justru dengan banyaknya waktu luang yang tersedia inilah yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk menggali lebih banyak mengenai ilmu-ilmu yang berkaitan dengan mata kuliah softskill. Seperti yang menjadi alasan terbitnya tulisan ini, yaitu untuk memenuhi kewajiban mahasiswa berupa tugas-tugas yang diberikan dosen. Kali ini kelas kami diminta untuk menyelesaikan dua tugas, yaitu mencari pengertian tentang koperasi menurut Undang-Undang, dan juga observasi koperasi ke lingkungan terdekat. Yang akan menjadi tokoh utama dalam bagian ini adalah tugas yang kedua, yaitu observasi ke koperasi terdekat, atau koperasi yang kita "tahu" keberadaan kongkritnya. Check it out!


Koperasi Keluarga Guru Jakarta, atau biasa disingkat KKGJ, adalah sebuah koperasi yang bertempat di Jl. Pori Raya No. 8, Pisangan Timur, Jakarta Timur. Koperasi ini adalah koperasi yang beranggotakan guru-guru berstatus PNS yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta. Beruntung sekali ayah saya adalah seorang Guru SD di Wilayah Jakarta Utara, yaitu di SDN Ancol 04 Petang, sehingga saya berkesempatan untuk membahas sedikit mengenai koperasi ini.

                KKGJ didirikan pada tahun 1952. KKGJ adalah Koperasi Fungsional Dinas Pendidikan Dasar DKI Jakarta. Koperasi ini berbentuk koperasi simpan pinjam. Yang artinya anggota bisa bertindak sebagai penanam dana (penyimpan) atau sebagai peminjam. Dengan menanamkan uang di koperasi ini, maka akan ada pemasukan dana, sehingga anggota lainnya yang memiliki keperluan untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan perkembangan zaman, bisa meminjam uang hasil simpanan anggota tersebut, dengan cara pelunasan yang biasanya dilakukan melalui pemotongan gaji tiap bulan atau sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

             Kesejahteraan anggota koperasi adalah yang menjadi tujuan utama. Dengan adanya Koperasi Keluarga Guru Jakarta, kesejahteraan anggota yang dalam koperasi ini terdiri dari guru-guru yang ada di Jakarta, bisa terjamin dan tak lekang dimakan derasnya arus perkembangan zaman. Seperti kebutuhan akan pendidikan, rumah tinggal, kendaraan, bahkan berangkat haji pun dapat dipenuhi melalui koperasi ini. Kesejahteraan bukan hanya dihubungkan dengan masalah perut, melainkan juga dengan kebutuhan akan pendidikan yang terpenuhi secara optimal. Salam Gunadarma!

Amanda Dwi Praharani
10211657


Jumat, 19 Oktober 2012

KOPERASI


                 “Apa itu koperasi?”
                Ketika masih di bangku sekolah, pastinya kita sering mendengar kata “koperasi”, namun sejatinya, apakah kita mengerti apa yang sedang kita bicarakan apabila mengucap “koperasi”? mungkin jika ditanya satu persatu kepada para siswa, kita akan mendengar jawaban-jawaban seperti berikut ini:

                “Koperasi, ya? Hmm yang suka jual perlengkapan sekolah itu, kan?”
                “Koperasi... setahu saya sih yang kalau di sekolah suka jual makanan, hehehe.”
                “hah, koperasi?? .......” (hening)
                “Koperasi? Masa situ ga tau sih apa itu koperasi? Ckck, kasian banget.. hmm sebentar, koperasi itu....” (kembali hening)
                “Koperasi itu.. yang biasanya tempat ayah saya pinjam uang, Kak..”
                “Koperasi? Ngapain sih nanyain koperasi, Kak? Nungguin jawaban dari si ‘dia’ aja aku udah galau!!” (sekalian curhat)
                “Koperasi, Kak? Hmm.. aku lupa, Kak. Ada sih tapinya di buku ekonomi aku, hehehe.”
                “Koperasi? Aku udah lupa definisinya, Kak. Maafin ya...”
                “Koperasi? No coment.
                “Koperasi, ya? Menurut Undang-Undang Tentang Perkoperasian pada Bab 1 Ketentuan Umum sih begini, Kak: Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum Koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip Koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas asas kekeluargaan. Begitu, Kak, isinya aku lihat di buku ini, hehehe.” (sambil menyodorkan buku Undang-Undang Perkoperasian miliknya)

                Bisa dilihat, orang-orang memang tahu koperasi, namun tidak mengerti secara jelas apa itu koperasi sebenarnya. Seperti yang sudah dikatakan oleh siswa ke sepuluh, koperasi merupakan badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang  berdasarkan atas asas kekeluargaan (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian, Pasal 1).

                Namun, apakah masyarakat sudah banyak yang mengetahui keberadaan, juga menjadi anggota koperasi?

                Jika ditilik lebih jauh, mungkin masyarakat akan lebih memilih untuk mengolah uang-uang mereka di lembaga keuangan lainnya seperti bank. Kenapa? Karena apabila di bank, mereka merasa lebih bisa meraih keuntungan lebih banyak daripada jika menyimpan uang di koperasi, sehingga alih-alih menjadi anggota koperasi, mereka lebih memilih menjadi nasabah di bank tertentu. Hal itu memang bisa dikatakan benar, yaitu menjadi nasabah suatu bank lebih menguntungkan, namun pada hakikatnya, dengan menjadi anggota koperasi, itu bisa memberikan banyak manfaat pada kita, karena kita bisa belajar untuk saling bergotong-royong. Rasa kekeluargaan kita juga bisa diperkuat dengan menjadi anggota koperasi. Sehingga walaupun keuntungan yang didapat tak seberapa,  namun pelajaran untuk menjadi masyarakat yang selalu bergotong-royonglah yang akan sangat bermanfaat dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat, baik dalam perekonomian, maupun kebutuhan akan kedamaian dan kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan sikap bergotong royong itulah segala macam kesulitan-kesulitan yang dialami rakyat bisa sedikit—bahkan banyak—teratasi.

                Koperasi terdiri beberapa bentuk dan jenis.  Jenis koperasi menurut fungsinya yaitu:
·        *  Koperasi Pembelian, adalah koperasi yang kegiatannya melakukan pembelian dan pengadaan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan anggota sebagai konsumen akhir. Pada koperasi jenis ini, anggota berperan sebagai pemilik juga pembeli bagi koperasinya.
·       *  Koperasi Penjualan, adalah koperasi yang melakukan distribusi barang atau jasa yang dihasilkan oleh anggotanya. Koperasi bertindak sebagai penyalur barang dan jasa tersebut kepada konsumen. Di sini, anggota bertindak sebagai pemilik dan pengurus koperasi.
·        * Koperasi Produksi, adalah koperasi yang menghasilkan barang dan jasa. Pada koperasi ini, anggota bekerja sebagai pegawai koperasi. Anggota juga berperan sebagai pemilik dan pekerja koperasi.
·      *   Koperasi Jasa, adalah koperasi yang menyediakan pelayanan jasa yang dibutuhkan oleh anggota seperti simpan pinjam, asuransi, angkutan, dan lain sebagainya. Yang menjadi pengguna layanan ini adalah para anggota koperasinya itu sendiri.

                Koperasi berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 serta berdasar atas asas kekeluargaan (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1992, pasal 2). Koperasi juga bertujuan untuk memajukan kesejahteraan anggotanya (pada khususnya) dan masyarakat pada umumnya, serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 (UU No. 25 tahun 1992 pasal 3). Sehingga apabila koperasi sudah merajai hati masyarakat, tujuan-tujuan maupun impian yang tertera dalam Undang-Undang tersebut pastinya akan mudah untuk terlaksana. Salam Gunadarma!

Sumber:
·         Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian
·         http://id.wikipedia.org/wiki/Koperasi


Amanda Dwi Praharani
10211657
2EA01 (2012/2013)
Universitas Gunadarma


               

Minggu, 29 Juli 2012

CERBUNG - HEAVEN


“Alhamdulillah, Ya, Allah!!”
Itulah kalimat pertama yang keluar dari bibir Aisha Nur Arsyi ketika pengumuman pemenang lomba karya tulis remaja muslim nasional dikumandangkan. Gadis kelahiran Bogor, 13 Desember 1992, ini dinobatkan sebagai penulis cerpen remaja muslim terbaik nasional 2008. Cerpennya yang berjudul Remaja-Remaja Surga berhasil mengalahkan beribu-ribu cerpen lainnya dari seluruh pelosok Indonesia. Kini ia dipersilakan panitia untuk naik ke podium untuk mengucapkan sepatah dua patah kata. Dadanya berdebar-debar tak keruan antara rasa cemas dan bahagia. Di sisi kanan bangku hadirin, ia bisa melihat banyak acungan jempol dari sahabat-sahabatnya. Senyum tulus merekah dari bibir mereka yang kemerahan. Aisha balas mengacungkan jempol dan mempercepat langkahnya naik ke podium. Di dalam otaknya, ia membayangkan betapa almarhum ayahnya akan sangat bahagia apabila  bisa melihat impiannya terkabul. Apalagi alasan utamanya untuk terus terjun di dunia tulis-menulis adalah karena permintaan ayahnya yang terakhir. Setetes air mata menyembul dari ujung matanya yang indah.
Setelah memberi sambutan yang lumayan menyihir hadirin dengan kata-katanya yang puitis, Aisha langsung dihampiri oleh para gadis remaja yang ternyata sudah benar-benar tersihir oleh karyanya. Ada yang minta tanda tangan, foto bersama, bahkan ada yang menanyakan alamat rumah. Aisha yang masih belum terbiasa dengan keadaan seperti itu, langsung menarik diri dan menghambur bersama teman-temannya keluar dari gedung teater TMII.
“Subhanallah, Aisha! Kamu juara! Cerpenmu menjadi yang terbaik se-Indonesia!!” seru Vita, gadis manis yang makin terlihar cantik ketika tersenyum. Ada juga Lia, Tara, Sarah, Raya, Andini, dan Alya di dekatnya. Aisha tak kuasa menahan haru. Ia pun langsung menangis di bahu Vita. Sahabat-sahabatnya ikut merengkuhnya dan ikut menangis bahagia juga.
“Sha, aku bangga sekali punya sahabat sehebat kamu! Padahal kamu masih enam belas tahun, tapi sudah mencetak prestasi secemerlang ini! Aku sungguh enggak bisa bayangin gimana bangganya teman-teman yang lain!” puji Lia. Bola matanya yang berwarna coklat terang bersinar seperti matahari. Aisha menghapus air matanya dan memasang senyuman manis kepada sahabat-sahabatnya. Sungguh kebahagiaan terbesar bisa mempunyai sahabat seperti mereka. Sahabat yang selalu ada dalam suka mau pun duka. Sahabat dunia akhirat.
“Terima kasih banyak, teman-teman. Kalian baik sekali. Aku beruntung sekali punya sahabat seperti kalian..” ucap Aisha, tulus. “Oh, iya. Lebih baik kita pulang sekarang. Hari semakin senja, nanti keretanya kehabisan, lho!”
***
Keesokan harinya, ketika Aisha sudah sampai di depan kelas, mendadak kelasnya ricuh tak terkendali. Hampir semua teman sekelasnya berhamburan menggamit lengannya dan membawanya masuk. Banyak diantaranya yang menanyakan kabar dan memberi selamat atas prestasi cemerlang yang ia dapatkan kemarin hari. Aisha hanya bisa tersenyum tanpa berkata-kata. Lalu ia keluar menerobos kerumunan dan menghambur ke kursi tempatnya selama ini duduk. Di sana sudah ada Alika teman sebangkunya, kini ia juga tengah tersenyum menyambut kedatangannya yang terlihat dramatis. Aisha langsung duduk di sampingnya dan balas tersenyum juga.
“Aisha, selamat atas keberhasilanmu. Maaf sekali aku enggak bisa hadir di acara penting itu. Ayahku keluar kota, dan hanya ada ibuku sendirian di rumah. Aku enggak tega ninggalin ibu sendirian. Sebenarnya ibu juga ingin sekali menontonmu, tapi karena kesehatannya buruk, aku enggak berani mengizinkannya,” ujar Alika panjang lebar membuka percakapan. Raut wajah Aisha yang ramah dan rupawan kini berubah khawatir.
“Ibumu sakit lagi, Lika? Ya, Allah.. aku jadi enggak enak.. Insya Allah sepulang sekolah aku akan main ke rumahmu untuk menjenguk ibumu!” seru Aisha. Alika tersenyum dan mengangguk meng-iyakan.
Kang Fachrullah!
Mendadak keduanya berpaling hampir bersamaan ke arah sumber suara. Dan sungguh seperti dibetot hatinya, Aisha tersentak dan langsung menunduk. Muhammad Fachrullah, anak laki-laki pertama yang pernah membuatnya begitu mendesir selain ketika namanya diumumkan sebagai penulis remaja terbaik nasional, kini tengah berdiri di sebelah Tresna, tepat di depan jendela samping tempatnya duduk. Fachrullah juga ikut berpaling dan matanya menangkap sosok jelita Aisha sekilas, dan langsung berlalu begitu saja.
“Aisha, tadi itu Kang Arul, kan?” tanya Alika membuyarkan keheningan. Aisha mengangguk. Benar-benar aneh. Perasaan apa ini? Seperti ada angin sejuk yang berdesir halus di hatinya. Seperti telah berhasil menemuka barang berharga yang telah lama hilang. Dan seperti diberikan hadiah terindah pada saat ulang tahun pertamanya...
“Ah, iya. Dia Muhammad Fachrullah, kelas 12 IPA C..” jawab Aisha, agak tertegun. Matanya menerawang ke arah sinar matahari pagi yang masih malu-malu menampakkan dirinya di timur sana. Membayangkan betapa menyenangkannya apabila bisa menjadi benda-benda yang terbang bebas di angkasa. Bisa melihat dunia secara luas dan dari sudut pandang mana saja. Bisa melihat apa saja yang dilakukan Muhammad Fachrullah di luar sana...
“Astaghfirullah! Apa yang kupikirkan?!” seru Aisha tiba-tiba. Alika hanya menatapnya heran dan geleng-geleng. Mungkin beginilah reaksi seorang penulis apabila menemukan inspirasi baru, batinnya.
***
Aisha Nur Arsyi...
                Pagi yang cerah dan indah. Indah karena pagi ini ia sudah melihat sosok jelita bidadari subuh itu. Walau masih malu-malu, ia tetap merasa senang. Ditambah lagi dengan adanya kabar tentang gadis itu yang telah mendapat gelar penulis remaja terbaik nasional. Apabila waktu bisa dipercepat sampai ia cukup umur untuk mengkhitbah gadis itu, ia pasti rela menukarnya dengan apapun. Ia takut dosa. Ia takut tidak bisa menahan perasaannya, dan kembali menjadi Muhammad Facrullah yang dulu. Muhammad Fachrullah yang seorang pendurhaka dan pendosa.
                “Assalamu’alaikum, Kang Arul,” sapa Anwar, adik kelasnya.
                “Wa’alaikumsalam, Anwar. Ada apa?” balas Arul, ramah. Anwar tersenyum dan langsung mengeluarkan beberapa lembar kertas berwarna seukuran A4 pada Arul. Sebuah tulisan cerpen, yang berjudulkan Remaja-Remaja Surga di halaman pertamanya.  Senyum puas merekah di bibir Arul. Ia menerima kertas itu dan langsung menjabat tangan adik kelasnya.
                Syukran, Anwar. Semoga Allah membalas kebaikanmu, amin,”ucap Arul. Anwar balas tersenyum dan undur diri dari perbincangan.
                “Sama-sama, Kang. Insya Allah majalah dinding bulan depan bisa lebih baik dari yang sekarang. Syukran juga atas bantuan Kang Arul yang selama ini selalu mengajari saya banyak hal. Baik dunia jurnalistik maupun keagamaan. Saya ke kelas dulu ya, Kang. Assalamu’alaikum.”
                “Wa’alaikumsalam,” balas Arul. Ia menunggu sampai sosok Anwar hilang, dan langsung mulai membaca lembaran pertama kertas itu.
                Lima sampai sepuluh menit sudah Arul membaca. Saat baru selesai, matanya mendung menahan haru. Sungguh maha karya yang luar biasa. Ia hampir tidak percaya kalau cerpen ini dibuat oleh seorang gadis remaja yang umurnya baru menginjak enam belas tahun. Alurnya mengalir lancar bagai air. Bahasa yang digunakan juga begitu halus, cerdas, dan tidak menggurui. Dibanding karya-karya emas Aisha sebelumnya, menurut Arul inilah yang paling bagus.
                “Fauzan harus membacanya..” gumam Arul. Ia memasukkan kertas itu ke dalam tasnya, sambil lalu berjalan ke pintu keluar masjid. Saat hendak memakai sepatu, tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari samping dan mengucapkan salam. Spontan Arul menoleh. Di sampingnya, duduklah Abdullah, kakak kelasnya yang sekarang sudah berstatus alumni. Lelaki berperawakan tinggi itu menyunggingkan seutas senyum ramah yang langsung disambut senyuman juga oleh Arul.
                “Wa’alaikumsalam, Kang Dullah. Ada rapat lagi, ya?”
                “Enggak. Saya mau bicara sesuatu sama kamu, Rul. Ada waktu?”
                “Tentu, Kang. Memangnya ada hal apa yang ingin dibicarakan? Kelihatannya penting sekali.” Abdullah pun menghela napas pelan, dan langsung membisikkan sesuatu di telinga Arul.
                “Saya sudah selidiki tentang orang yang mengeroyok adikmu, Rul. Teman-temanku yang tinggal dekat rumahmu semuanya tahu siapa orang itu. Namanya Agus, teman SMP adikmu. Saya memang belum terlalu yakin, tapi menurut saksi mata, ciri-ciri orang itu mirip sekali dengan Agus Hendrawan. Cowok bengal yang tergila-gila pada Aisha Nur Arsyi, siswi kelas sebelas itu. Adikmu kenal dengan gadis itu, kan?”
                Hati Arul mencelos. Ia baru ingat kalau Aisha Nur Arsyi itu adalah gadis yang disukai adiknya. Yang disukainya juga...
                “Oh.. Iya, Kang. Terima kasih banyak atas bantuan Akang selama ini. Insya Allah akan saya tanyakan langsung pada adik saya. Kesehatan dan kesadarannya memang belum pulih seratus persen, tapi walau begitu, ia sudah bisa mendengar dan berbicara sedikit-sedikit. Nanti kalau ada kemajuan, Insya Allah akan saya kabari Akang lagi. Syukran, Kang. Assalamu’alaikum.”
                “Wa’alaikumsalam,” balas Abdullah, lalu ia masuk ke masjid, meninggalkan Arul dengan segala pikiran dan dilemanya.

*Bersambung*

Berlanjut ke Heaven (Part 2)

Sabtu, 02 Juni 2012

My Opinion About English


“What is my opinion about English Language?”
Yes, that is the last task that our English Teacher gave to us. At first, I didn’t pay much attention to that task, because I think, I don’t need much time to do that. But, when the time is running out, I really find my self so naive.
What is my opinion about that? Well, maybe I can say, English Language is “everything”. Everything, why? Because with that, I can see the world from  many—many point of view. English is my tounge. English is my lips. English is my voice. English is my eyes. English is my window. English is my door to step to the light. Without that, maybe I never been here right now, eventhough my english skill is not too good (^_^v).
And then, what is the best method to study english language?
Wow, honestly, the first time I can understand english is when I start to playing game; Harvest Moon: Back to Nature,you know, the RPG game about Farming life, with english version of course. Maybe it sounds like I just kidding, but I am serious. From that game, not only an english laguange that I can have, but the value of the life. So, I think I am not agree with the statement like “The game just bring a negative effect for children”. Because, from my experience, the game, especially Harvest Moon, is my first and the best english teacher until now.
So, the best method to study english to me:
1.      Don’t always stuck to the text book.
2.      Give the student chance to choose their best way to understand english such as listening song, watching film, playing a game, make an english day ( I often do that with my friends), and many more.
3.      Once more, make an english day. It mean we have to speak only english in that day (even just say “yes, no, thank you, I love you”, I think that’s enough to improve our active-english speaking).
I know my english is not good. But I hope this opinion can help everyone to find the best way to study english. Maybe my method is not good to other, but I can tell, this is very usefull.
Good luck, and thank you very much ^_^.
 
 Amanda Dwi Praharani, 10211657, 1EA02.

Minggu, 06 Mei 2012

Kejahatan di Dunia Maya

Hidup tanpa internet bagaikan taman tanpa bunga. Mungkin itu adalah ungkapan yang tepat digunakan untuk menggambarkan betapa pentingnya keberadaan internet di kehidupan kita dewasa ini. Namun apabila internet tidak digunakan sebagaimana mestinya, tentunya kerugianlah yang akan kita dapat, baik kerugian secara materi maupun moral. Seperti yang dikutip dari artikel ini http://awan965.wordpress.com/2007/04/06/kejahatan-di-dunia-maya/

Pada artikel itu dipaparkan mengenai macam kejahatan yang ada di dunia maya, salah satunya adalah spy ware, spy artinya mata-mata, dan ware adalah program. Jadinya cara kerja malicious software ini adalah dengan memata-matai komputer yang kita gunakan, tentunya tanpa sepengetahuan pemiliknya. Setelah mempunyai cukup data, kemudian data tersebut dilaporkan kepada pihak ketiga yang merupakan si pembuat spy ware.
Tentunya hal ini sangat merugikan kita, apalagi jika data yang disadap adalah data-data yang sangat penting seperti nomor rekening, dsb. Untuk itu, kita sebagai pengguna internet harus meningkatkan lagi kewaspadaan kita, jangan sembarang termakan iklan di internet yang biasanya digunakan oleh pelaku kejahatan sebagai modus, dan tetap berusaha agar selalu menjadi pengguna internet yang "pintar".

Keuntungan tentu masih bisa didapat dengan cara yang baik. Menurut saya, oknum-oknum tak bertanggung jawab yang melakukan kejahatan internet dan sebagainya itu hanyalah orang-orang yang tidak memiliki kesabaran. Mereka hanya ingin mendapatkan hasil yang instan. Saya sadar, oknum-oknum itu adalah orang-orang yang pintar semua karena bisa menciptakan program jahat seperti itu, namun seharusnya kepintaran yang mereka miliki digunakan untuk yang baik. Bukan program yang malah menambah panjang catatan kejahatan di internet, yang nantinya jika dibiarkan berkembang biak bisa mempengaruhi mind set khalayak banyak bahwa internet bukan lagi gudang informasi, melainkan sarang kejahatan. Hal itu tentu sangat merugikan, apalagi di jaman yang serba cyber  ini, yang kebanyakan aktivitas-aktivitas menggunakan fasilitas internet.


Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi pembaca. Tetap pintar dan semangat, Salam Gunadarma!


oleh: Amanda Dwi Praharani, 1EA02, 10211657.