Kamis, 29 November 2012

A Letter To My Mother


Kepada Mamaku Tercinta,
Di relung hatiku...

Mama, apa kabar? Entah mengapa aku merasa malu menulis surat ini untukmu, Mah.. karena aku takut Engkau akan memarahiku jika tulisanku jelek, hehe. Setiap hari, aku yakin mama menganggapku seorang anak yang cuek, yang tidak peduli pada apapun yang Engkau kerjakan.. namun aku hanya ingin Mama tahu, hatiku tidak seperti itu.. aku ingin mengungkapkan lewat lisan, tapi tak sanggup kata ini mengalir. Ingin kuungkapkan dengan perlakuan, namun raga ini menolak untuk bergerak. Aku tahu aku adalah seorang anak yang tidak berbakti kepadamu, Mah. Yang tidak sanggup membalas budi. Yang tidak tahu berapa banyak air mata yang mengalir dari wajahmu di saat sujud malammu mendoakan kesuksesanku. Aku hanya bisa memandangimu lewat celah pintu kamarmu saat kau terlelap di malam yang dingin, lalu menutup celah itu dan kembali lagi ke kamarku sendiri. Tanpa mendekat untuk sekedar memandangmu lebih dekat, atau mencium pipimu, atau membelai rambutmu yang masih halus. Aku terlalu congkak. Sombong. Dan tidak memiliki kelembutan hati sepertimu..

Jadi kuputuskan, untuk menulis surat ini.. entah nantinya aku berani untuk menyerahkan langsung padamu atau tidak, aku tidak peduli. Yang penting luapan hatiku tentang kerinduanku padamu bisa tercurah pada secarik kertas putih yang kemungkinan akan kau temukan di meja riasmu suatu hari.. untukmu.. aku memiliki puisi..

Gemericik air
Bukan hujan, namun tetesan air mata, yang hanya bisa didengar oleh hatiku
Suara goretan pena
Dengan tinta, yang melahirkan kandungan kerinduanku padamu kepada secarik kertas putih
Di malam ini, aku menulis padamu..
Tak panjang.. karena nampaknya tak sanggup kata ini mengalir sederas air bah, seperti yang ada di pikiranku
Aku merindukanmu
Aku merindukan pelukanmu
Aku merindukan pelukanmu, dan ciuman hangatmu di kening ketika mengantarku tidur dulu
Aku mengemis maaf dari hatimu, atas ketidakpedulianku padamu selama ini
Kubilang sekali lagi, aku merindukanmu
Menyayangimu
Mencintaimu...
Sepenuh hatiku..

Kurasa puisiku barusan sudah bisa mewakili kerinduanku padamu, Mah.. aku harap ketika mama membacanya, aku sudah berubah menjadi anak yang bisa membuka hati, yang bisa memelukmu seperti saat masih kecil dulu, yang bisa dengan mudah mengatakan, “Aku sayang mama!”, tanpa rasa malu juga gengsi. Kuakhiri saja suratku sampai di sini..

Sekali lagi, untukmu Mama..
Dari aku, anakmu, yang selalu mencintaimu walau ditutupi oleh kebisuan. 

Kamis, 22 November 2012

Kereta Api, Cilebut, dan Tanah Longsor

Bogor kota hujan. Itulah sebutan yang selama ini selalu dilontarkan kepada kota kelahiran saya (^_^v). Predikat kota hujan memang cocok kota ini, terlebih pada saat musim hujan yang terbilang ekstrim seperti sekarang. Pada tanggal 21 November 2012 lalu, di kilometer 45 antara stasiun Cilebut dan Bojong Gede, terjadi longsoran tanah yang mengakibatkan runtuhnya 4 tiang listrik, dan sepuluh rumah tertimbun tanah. longsoran tanah yang terjadi pada fondasi rel kereta api itu terjadi beberapa menit setelah kereta melintas (KOMPAS.com). Kejadian itu menyebabkan penumpukan penumpang di stasiun Bojong Gede (tempat pemberhentian akhir sementara untuk saat ini).

Sekitar pukul sembilan malam, saya diminta oleh ayah saya untuk menjemput beliau di stasiun Bojong Gede karena tidak mendapat angkot. Akhirnya mau tidak mau saya pun menyalakan motor dan melajukannya segera. Ketika masih di daerah Cilebut, keadaan masih terlihat normal. Namun saat motor saya sudah memasuki kawasan Petaunan, keanehan mulai terjadi (jeng jeng jeng! hehe tenang aja ini bukan cerita horor kok ^_^). Berbondong-bondong manusia membelah jalan menjadi potongan sempit yang mengakibatkan kemacetan alot. Usut punya usut, mereka semua adalah penumpang kereta api tujuan Stasiun Cilebut dan Stasiun Bogor. Yup, seperti yang sudah tertebak, mereka terpaksa jalan kaki dari Bojong Gede... bayangkan teman-teman! dalam hati saya bersyukur masih memiliki motor di rumah sehingga ayah saya tidak harus ikut berjalan jauh seperti itu... (dan mendadak hening, kemudian galau... oke lanjut!)

Kalau boleh jujur, miris rasanya melihat wajah lelah mereka.. pulang kerja.. pulang kuliah.. pulang main (hehe).. ketika di kereta, mereka mungkin saja sudah membayangkan akan disambut oleh Es Teh Manis di rumah.. namun harapan mereka sirna ketika kereta sudah berhenti di stasiun Bojong Gede.. Ingin naik angkutan umum, tidak ada yang bisa dinaiki lagi karena padatnya penumpang. Terpaksa mereka pun jalan kaki menuju rumah.. bayangkan teman-teman, bayangkan...

Kejadian kemarin ini, kebanyakan masyarakat menyalahkan pengelola kereta api yang kurang tanggap dalam melihat kondisi medan. Hal itu memang ada benarnya, namun apa adil jika kita sepenuhnya menyalahkan mereka? kejadian tanah longsor bukanlah hal yang bisa dikendalikan oleh manusia. Apakah lintasan kereta api, juga tanah yang sudah terlanjur menimbun rumah di bawahnya itu bisa diperbaiki sendiri hanya dengan lontaran makian kepada pengelola? justru hal inilah yang harus segera diluruskan.. masyarakat yang maju, adalah masyarakat yang dapat menghasilkan solusi, bukan hanya teori.

Menurut berita, perbaikan lintasan kereta itu bisa memakan waktu lumayan lama. Hal itu tentu saja akan sangat mengganggu kenyamanan dan kegiatan masyarakat yang sehari-hari menggunakan jasa kereta api untuk berangkat kerja, kuliah, sekolah, dan kegiatan lainnya. Namun apabila kita hanya mengikuti hawa nafsu, hawa marah, kecewa.. maka rasa nyaman yang dirindukan takkan pernah kita dapatkan. Karena apa? karena kita tidak mau berempati.. berempati untuk siapa? untuk pengelola kereta api yang sebenarnya juga ikut terganggu akibat musibah ini.

Perbaikan lintasan pastinya akan segera diselesaikan. Dengan bersabar, maka kita pun akan mendapat ketenangan tersendiri. Jangan mudah terpancing untuk menyalahkan pengelola mentah-mentah. Mau tidak mau, sudah kewajiban mereka untuk memperbaikinya. Yang mereka butuhkan hanyalah waktu, beserta dukungan dari pengguna setia kereta api seperti kita ini. Janganlah kita menambah beban mereka dengan selalu mengeluh, mengeluh, dan mengeluh. Sudah saatnya bagi kita menjadi masyarakat yang peduli sesama. Termasuk kepada pengelola kereta api. Pengelola juga manusia, memiliki banyak kekurangan (walau tak bisa dijadikan alasan untuk menunda-nunda).

Foto-foto mengenai migrasi besar-besaran penumpang kereta dari stasiun Bojong Gede ke Cilebut Insya Allah di kesempatan berikutnya apabila memungkinkan. Tetap semangat, tetap berjuang, dan SALAM GUNADARMA!

Rabu, 21 November 2012

CERBUNG - HEAVEN (Part 2)

Aku ingin jadi malam.. yang mampu membuaimu sampai tertidur juga terlelap pada gelapnya malam...

Kalimat itu, muncul begitu saja di kepala Aisha. Kala itu ia hanya duduk termangu di meja komputernya, sembari mengulang kembali kejadian siang tadi di sekolah...

Muhammad Fachrullah...

Nama itu kembali terngiang. Aisha menggeleng-gelengkan kepalanya sekeras mungkin agar ia sadar. Pasti ini pengaruh dari kualitas tidurnya yang sangat buruk akhir-akhir ini, sehingga pikirannya sering melayang tak jelas ke mana-mana. Ia pun memutuskan bangkit dari kursi perenungannya, dan ke kamar mandi untuk cuci muka. Tak lama kemudian, terdengar suara lembut ibunya dari luar kamar.

"Aisha! Zahra adikmu, datang mencarimu!"
"Iya, Bu! Aisha segera keluar!"

Buru-buru ia keringkan wajahnya dengan handuk, lalu keluar kamar. Di ruang tamu, duduk seorang gadis manis berusia 10 tahun, Zahrawati namanya. Ia adalah tetangga Aisha, yang sudah dianggap keluarga olehnya.

 "Assalamu'alaikum, anak cantik. Tumben sekali malam-malam main ke sini?" sapa Aisha, membuat Zahra menoleh dan langsung menghambur memeluk gadis yang sudah ia anggap kakak sendiri ini. "Eits, kenapa toh langsung nyerbu aku begini?"

Zahra masih memeluk Aisha dengan erat. Walau sedikit heran, Aisha memutuskan untuk tidak bertanya dulu perihal kelakuan adiknya ini sampai ia sendiri yang mengutarakan maksudnya. Aisha pun menggiring Zahra duduk, dan menghadapkan wajahnya pada wajah gadis mungil itu.

"Zahra, kamu kenapa?" tanya Aisha penuh kelembutan. Matanya yang jernih menembus mata indah nan suci milik Zahra. Gadis kecil itu tidak langsung menjawab. Nampaknya ia masih menikmati beningnya tatapan Aisha.

"Kak Agus.. kabur lagi dari rumah, Kak Ica. Ibu di rumah sakit-sakitan. Cuma aku dan ibu yang ada di rumah. Aku takut, Kak Ica..." jawab Zahra. Matanya mulai berkaca-kaca. Kakaknya yang bernama Agus memang terkenal bandel. Sering berkelahi dan kabur dari rumah. Kejadian seperti ini bukanlah yang pertama kali. Seperti biasa, Aisha memutuskan untuk menginap di rumah Zahra untuk menemani sekaligus merawat ibunya yang sakit.

"Ya sudah kakak temani kamu lagi, ya? sekalian kita beli obat buat ibumu, gimana?"
Zahra mendadak riang dan mencium tangan Aisha. Air matanya kini tak bercucuran lagi. Setelah mengemas seragam sekolah dan perlengkapan lainnya yang akan dipakainya besok pagi, Aisha pun pamit pada ibunya, dan mengantar Zahra pulang ke rumah.

***
Malam sudah sampai pada pukul setengah sembilan. Muhammad Fachrullah, atau yang sudah biasa disapa Arul, masih dalam perjalanan dari Masjid menuju rumahnya. Jalanan sangat becek pasca hujan deras sore tadi. Memaksanya berjalan sambil menyingkap sedikit sarungnya yang hampir pasrah terkena cipratan lumpur merah. Tak lama kemudian, ia pun sampai di rumahnya yang terletak persis di tengah-tengah desa.

"Assalamu'alaikum!"

Terdengar suara jawaban salam dari dalam rumah. Arul pun masuk. Di ruang tamu, ada kedua orang tuanya yang sedang asyik berdiskusi mengenai acara televisi. Obrolan mereka pun terhenti ketika melihat anak pertamanya masuk.

"Kenapa pulangnya cepat sekali, Nak? memang tidak ada pengajian? biasanya kamu kan pulang jam sembilan malam." tanya ayahnya. 

"Pengajian tetap ada, Yah. Hanya dipersingkat saja karena Ustadz-nya tiba-tiba ada urusan.." jawab Arul. "Oh, iya. Fauzan sudah tidur?"

Tiba-tiba, suara yang mirip sekali dengan suara Arul pun menyahut dari dalam ruangan sebelah ruang tamu. Itu suara Fauzan, adik Arul. Tepatnya, adik kembarnya.

"Ayah, Ibu, saya permisi masuk dulu.." pamit Arul dan kemudian undur diri.

Arul masuk ke kamar adiknya, yang ternyata sedang berbaring. Terpaksa berbaring karena ia memang tidak bisa bergerak bebas apalagi beranjak dari tempat tidur. Kaki, tangan, dan kepalanya masih dibebat dengan perban. Jujur saja Arul sangat miris melihat kondisi adik kembarnya yang sudah seperti ini sejak beberapa lama yang lalu karena dikeroyok oleh teman-teman sepermainannya. Motif sebenarnya dari pemukulan itu belum terungkap, karena Fauzan sendiri belum bisa memberikan keterangan yang lengkap mengenai kasusnya karena kondisinya yang membuatnya sulit mengingat kejadian itu.

"Cerpen Aisha jadi terbaik se-Indonesia loh.. kamu tahu?" awalnya Arul ingin berbasa-basi sedikit untuk memulai percakapan mengenai Aisha dengan adiknya, namun entah mengapa lidahnya terasa kelu. Fauzan yang tadinya terlihat lemas pun mendadak seperti mendapat kembali kekuatannya.

"Serius? Alhamdulillah... aku senang dengernya! oh, iya, kamu bawa enggak cerpennya dia?" Arul pun mengambil lembara-lembaran kertas berisi cerpen Aisha dari atas meja belajarnya, dan memberikannya pada Fauzan untuk dibaca.

Beberapa menit kemudian, Fauzan selesai membaca dan langsung terdiam sambil memejamkan matanya, dan mendekap kertas cerpennya di dadanya. Seperti sedang menghayati. Oh, Iya, sekedar info, Fauzan adalah penggemar Aisha sejak mereka bertemu di SMP dulu... dan hal itulah yang selama ini membuat Arul gundah. Ia selalu bertanya-tanya dalam hati, mengapa ia bisa menyukai orang yang sama dengan adik kembarnya? apakah karena mereka memang.. kembar?

"Bagus sekali tulisan ini.. indah.. aku enggak sabar mau masuk sekolah, dan ketemu sama dia di kelas lagi.. bahkan kalau boleh jujur, aku bersyukur pernah enggak naik kelas ketika SMP dulu.. sehingga bisa seangkatan, dan bahkan sekelas dengannya seperti sekarang ini.." ujar Fauzan. Arul memaksakan senyumnya yang biasa. Ia senang adiknya bisa kembali bersemangat setelah membaca cerpen itu, namun di sisi lain... entahlah... ia tidak berani memikirkannya...

"Ya sudah kalau begitu, kamu harus banyak-banyak istirahat supaya cepat sehat dan kembali ke sekolah. Kalau kamu bolos terus seperti ini, aku khawatir Aisha akan jatuh ke pelukan orang lain. Hahahahaha..." Arul menggoda adiknya, yang langsung melotot dan melempar bantal padanya. 

"Enggak mungkin dia jatuh ke pelukan orang lain! karena dia sudah ditakdirkan sama aku! huahahaha!" balas Fauzan penuh kemenangan. Arul pun hanya terkekeh sambil keluar kamar adiknya. Ketika sudah di luar, wajah cerianya kembali muram. Ia tidak tahu sejak kapan ia pandai bermain peran seperti ini...

*Bersambung*

Berlanjut ke Heaven (Part 3)

Sabtu, 20 Oktober 2012

Tugas Ekonomi Koperasi - Koperasi Keluarga Guru Jakarta

             Mata kuliah Ekonomi Koperasi merupakan matkul pertama yang saya dapatkan ketika baru saja memasuki semester 3 dalam perkuliahan di Universitas Gunadarma tercinta ini, tepatnya dalam kelas menyenangkan bernama 2EA01 yang saat itu tengah "bermukim" di gedung 4 lantai 3 ruang 3B kampus E UG. Ekonomi Koperasi merupakan mata kuliah softskill, yang dalam kampus UG hanya mendapat kesempatan sebulan sekali untuk bertatap muka dengan dosen. Namun sedikitnya frekuensi pertemuan dengan dosen tak memudarkan manfaat dari mata kuliah ini, tentu saja. Justru dengan banyaknya waktu luang yang tersedia inilah yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk menggali lebih banyak mengenai ilmu-ilmu yang berkaitan dengan mata kuliah softskill. Seperti yang menjadi alasan terbitnya tulisan ini, yaitu untuk memenuhi kewajiban mahasiswa berupa tugas-tugas yang diberikan dosen. Kali ini kelas kami diminta untuk menyelesaikan dua tugas, yaitu mencari pengertian tentang koperasi menurut Undang-Undang, dan juga observasi koperasi ke lingkungan terdekat. Yang akan menjadi tokoh utama dalam bagian ini adalah tugas yang kedua, yaitu observasi ke koperasi terdekat, atau koperasi yang kita "tahu" keberadaan kongkritnya. Check it out!


Koperasi Keluarga Guru Jakarta, atau biasa disingkat KKGJ, adalah sebuah koperasi yang bertempat di Jl. Pori Raya No. 8, Pisangan Timur, Jakarta Timur. Koperasi ini adalah koperasi yang beranggotakan guru-guru berstatus PNS yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta. Beruntung sekali ayah saya adalah seorang Guru SD di Wilayah Jakarta Utara, yaitu di SDN Ancol 04 Petang, sehingga saya berkesempatan untuk membahas sedikit mengenai koperasi ini.

                KKGJ didirikan pada tahun 1952. KKGJ adalah Koperasi Fungsional Dinas Pendidikan Dasar DKI Jakarta. Koperasi ini berbentuk koperasi simpan pinjam. Yang artinya anggota bisa bertindak sebagai penanam dana (penyimpan) atau sebagai peminjam. Dengan menanamkan uang di koperasi ini, maka akan ada pemasukan dana, sehingga anggota lainnya yang memiliki keperluan untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan perkembangan zaman, bisa meminjam uang hasil simpanan anggota tersebut, dengan cara pelunasan yang biasanya dilakukan melalui pemotongan gaji tiap bulan atau sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

             Kesejahteraan anggota koperasi adalah yang menjadi tujuan utama. Dengan adanya Koperasi Keluarga Guru Jakarta, kesejahteraan anggota yang dalam koperasi ini terdiri dari guru-guru yang ada di Jakarta, bisa terjamin dan tak lekang dimakan derasnya arus perkembangan zaman. Seperti kebutuhan akan pendidikan, rumah tinggal, kendaraan, bahkan berangkat haji pun dapat dipenuhi melalui koperasi ini. Kesejahteraan bukan hanya dihubungkan dengan masalah perut, melainkan juga dengan kebutuhan akan pendidikan yang terpenuhi secara optimal. Salam Gunadarma!

Amanda Dwi Praharani
10211657


Jumat, 19 Oktober 2012

KOPERASI


                 “Apa itu koperasi?”
                Ketika masih di bangku sekolah, pastinya kita sering mendengar kata “koperasi”, namun sejatinya, apakah kita mengerti apa yang sedang kita bicarakan apabila mengucap “koperasi”? mungkin jika ditanya satu persatu kepada para siswa, kita akan mendengar jawaban-jawaban seperti berikut ini:

                “Koperasi, ya? Hmm yang suka jual perlengkapan sekolah itu, kan?”
                “Koperasi... setahu saya sih yang kalau di sekolah suka jual makanan, hehehe.”
                “hah, koperasi?? .......” (hening)
                “Koperasi? Masa situ ga tau sih apa itu koperasi? Ckck, kasian banget.. hmm sebentar, koperasi itu....” (kembali hening)
                “Koperasi itu.. yang biasanya tempat ayah saya pinjam uang, Kak..”
                “Koperasi? Ngapain sih nanyain koperasi, Kak? Nungguin jawaban dari si ‘dia’ aja aku udah galau!!” (sekalian curhat)
                “Koperasi, Kak? Hmm.. aku lupa, Kak. Ada sih tapinya di buku ekonomi aku, hehehe.”
                “Koperasi? Aku udah lupa definisinya, Kak. Maafin ya...”
                “Koperasi? No coment.
                “Koperasi, ya? Menurut Undang-Undang Tentang Perkoperasian pada Bab 1 Ketentuan Umum sih begini, Kak: Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum Koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip Koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas asas kekeluargaan. Begitu, Kak, isinya aku lihat di buku ini, hehehe.” (sambil menyodorkan buku Undang-Undang Perkoperasian miliknya)

                Bisa dilihat, orang-orang memang tahu koperasi, namun tidak mengerti secara jelas apa itu koperasi sebenarnya. Seperti yang sudah dikatakan oleh siswa ke sepuluh, koperasi merupakan badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang  berdasarkan atas asas kekeluargaan (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian, Pasal 1).

                Namun, apakah masyarakat sudah banyak yang mengetahui keberadaan, juga menjadi anggota koperasi?

                Jika ditilik lebih jauh, mungkin masyarakat akan lebih memilih untuk mengolah uang-uang mereka di lembaga keuangan lainnya seperti bank. Kenapa? Karena apabila di bank, mereka merasa lebih bisa meraih keuntungan lebih banyak daripada jika menyimpan uang di koperasi, sehingga alih-alih menjadi anggota koperasi, mereka lebih memilih menjadi nasabah di bank tertentu. Hal itu memang bisa dikatakan benar, yaitu menjadi nasabah suatu bank lebih menguntungkan, namun pada hakikatnya, dengan menjadi anggota koperasi, itu bisa memberikan banyak manfaat pada kita, karena kita bisa belajar untuk saling bergotong-royong. Rasa kekeluargaan kita juga bisa diperkuat dengan menjadi anggota koperasi. Sehingga walaupun keuntungan yang didapat tak seberapa,  namun pelajaran untuk menjadi masyarakat yang selalu bergotong-royonglah yang akan sangat bermanfaat dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat, baik dalam perekonomian, maupun kebutuhan akan kedamaian dan kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan sikap bergotong royong itulah segala macam kesulitan-kesulitan yang dialami rakyat bisa sedikit—bahkan banyak—teratasi.

                Koperasi terdiri beberapa bentuk dan jenis.  Jenis koperasi menurut fungsinya yaitu:
·        *  Koperasi Pembelian, adalah koperasi yang kegiatannya melakukan pembelian dan pengadaan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan anggota sebagai konsumen akhir. Pada koperasi jenis ini, anggota berperan sebagai pemilik juga pembeli bagi koperasinya.
·       *  Koperasi Penjualan, adalah koperasi yang melakukan distribusi barang atau jasa yang dihasilkan oleh anggotanya. Koperasi bertindak sebagai penyalur barang dan jasa tersebut kepada konsumen. Di sini, anggota bertindak sebagai pemilik dan pengurus koperasi.
·        * Koperasi Produksi, adalah koperasi yang menghasilkan barang dan jasa. Pada koperasi ini, anggota bekerja sebagai pegawai koperasi. Anggota juga berperan sebagai pemilik dan pekerja koperasi.
·      *   Koperasi Jasa, adalah koperasi yang menyediakan pelayanan jasa yang dibutuhkan oleh anggota seperti simpan pinjam, asuransi, angkutan, dan lain sebagainya. Yang menjadi pengguna layanan ini adalah para anggota koperasinya itu sendiri.

                Koperasi berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 serta berdasar atas asas kekeluargaan (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1992, pasal 2). Koperasi juga bertujuan untuk memajukan kesejahteraan anggotanya (pada khususnya) dan masyarakat pada umumnya, serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 (UU No. 25 tahun 1992 pasal 3). Sehingga apabila koperasi sudah merajai hati masyarakat, tujuan-tujuan maupun impian yang tertera dalam Undang-Undang tersebut pastinya akan mudah untuk terlaksana. Salam Gunadarma!

Sumber:
·         Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian
·         http://id.wikipedia.org/wiki/Koperasi


Amanda Dwi Praharani
10211657
2EA01 (2012/2013)
Universitas Gunadarma


               

Minggu, 29 Juli 2012

CERBUNG - HEAVEN


“Alhamdulillah, Ya, Allah!!”
Itulah kalimat pertama yang keluar dari bibir Aisha Nur Arsyi ketika pengumuman pemenang lomba karya tulis remaja muslim nasional dikumandangkan. Gadis kelahiran Bogor, 13 Desember 1992, ini dinobatkan sebagai penulis cerpen remaja muslim terbaik nasional 2008. Cerpennya yang berjudul Remaja-Remaja Surga berhasil mengalahkan beribu-ribu cerpen lainnya dari seluruh pelosok Indonesia. Kini ia dipersilakan panitia untuk naik ke podium untuk mengucapkan sepatah dua patah kata. Dadanya berdebar-debar tak keruan antara rasa cemas dan bahagia. Di sisi kanan bangku hadirin, ia bisa melihat banyak acungan jempol dari sahabat-sahabatnya. Senyum tulus merekah dari bibir mereka yang kemerahan. Aisha balas mengacungkan jempol dan mempercepat langkahnya naik ke podium. Di dalam otaknya, ia membayangkan betapa almarhum ayahnya akan sangat bahagia apabila  bisa melihat impiannya terkabul. Apalagi alasan utamanya untuk terus terjun di dunia tulis-menulis adalah karena permintaan ayahnya yang terakhir. Setetes air mata menyembul dari ujung matanya yang indah.
Setelah memberi sambutan yang lumayan menyihir hadirin dengan kata-katanya yang puitis, Aisha langsung dihampiri oleh para gadis remaja yang ternyata sudah benar-benar tersihir oleh karyanya. Ada yang minta tanda tangan, foto bersama, bahkan ada yang menanyakan alamat rumah. Aisha yang masih belum terbiasa dengan keadaan seperti itu, langsung menarik diri dan menghambur bersama teman-temannya keluar dari gedung teater TMII.
“Subhanallah, Aisha! Kamu juara! Cerpenmu menjadi yang terbaik se-Indonesia!!” seru Vita, gadis manis yang makin terlihar cantik ketika tersenyum. Ada juga Lia, Tara, Sarah, Raya, Andini, dan Alya di dekatnya. Aisha tak kuasa menahan haru. Ia pun langsung menangis di bahu Vita. Sahabat-sahabatnya ikut merengkuhnya dan ikut menangis bahagia juga.
“Sha, aku bangga sekali punya sahabat sehebat kamu! Padahal kamu masih enam belas tahun, tapi sudah mencetak prestasi secemerlang ini! Aku sungguh enggak bisa bayangin gimana bangganya teman-teman yang lain!” puji Lia. Bola matanya yang berwarna coklat terang bersinar seperti matahari. Aisha menghapus air matanya dan memasang senyuman manis kepada sahabat-sahabatnya. Sungguh kebahagiaan terbesar bisa mempunyai sahabat seperti mereka. Sahabat yang selalu ada dalam suka mau pun duka. Sahabat dunia akhirat.
“Terima kasih banyak, teman-teman. Kalian baik sekali. Aku beruntung sekali punya sahabat seperti kalian..” ucap Aisha, tulus. “Oh, iya. Lebih baik kita pulang sekarang. Hari semakin senja, nanti keretanya kehabisan, lho!”
***
Keesokan harinya, ketika Aisha sudah sampai di depan kelas, mendadak kelasnya ricuh tak terkendali. Hampir semua teman sekelasnya berhamburan menggamit lengannya dan membawanya masuk. Banyak diantaranya yang menanyakan kabar dan memberi selamat atas prestasi cemerlang yang ia dapatkan kemarin hari. Aisha hanya bisa tersenyum tanpa berkata-kata. Lalu ia keluar menerobos kerumunan dan menghambur ke kursi tempatnya selama ini duduk. Di sana sudah ada Alika teman sebangkunya, kini ia juga tengah tersenyum menyambut kedatangannya yang terlihat dramatis. Aisha langsung duduk di sampingnya dan balas tersenyum juga.
“Aisha, selamat atas keberhasilanmu. Maaf sekali aku enggak bisa hadir di acara penting itu. Ayahku keluar kota, dan hanya ada ibuku sendirian di rumah. Aku enggak tega ninggalin ibu sendirian. Sebenarnya ibu juga ingin sekali menontonmu, tapi karena kesehatannya buruk, aku enggak berani mengizinkannya,” ujar Alika panjang lebar membuka percakapan. Raut wajah Aisha yang ramah dan rupawan kini berubah khawatir.
“Ibumu sakit lagi, Lika? Ya, Allah.. aku jadi enggak enak.. Insya Allah sepulang sekolah aku akan main ke rumahmu untuk menjenguk ibumu!” seru Aisha. Alika tersenyum dan mengangguk meng-iyakan.
Kang Fachrullah!
Mendadak keduanya berpaling hampir bersamaan ke arah sumber suara. Dan sungguh seperti dibetot hatinya, Aisha tersentak dan langsung menunduk. Muhammad Fachrullah, anak laki-laki pertama yang pernah membuatnya begitu mendesir selain ketika namanya diumumkan sebagai penulis remaja terbaik nasional, kini tengah berdiri di sebelah Tresna, tepat di depan jendela samping tempatnya duduk. Fachrullah juga ikut berpaling dan matanya menangkap sosok jelita Aisha sekilas, dan langsung berlalu begitu saja.
“Aisha, tadi itu Kang Arul, kan?” tanya Alika membuyarkan keheningan. Aisha mengangguk. Benar-benar aneh. Perasaan apa ini? Seperti ada angin sejuk yang berdesir halus di hatinya. Seperti telah berhasil menemuka barang berharga yang telah lama hilang. Dan seperti diberikan hadiah terindah pada saat ulang tahun pertamanya...
“Ah, iya. Dia Muhammad Fachrullah, kelas 12 IPA C..” jawab Aisha, agak tertegun. Matanya menerawang ke arah sinar matahari pagi yang masih malu-malu menampakkan dirinya di timur sana. Membayangkan betapa menyenangkannya apabila bisa menjadi benda-benda yang terbang bebas di angkasa. Bisa melihat dunia secara luas dan dari sudut pandang mana saja. Bisa melihat apa saja yang dilakukan Muhammad Fachrullah di luar sana...
“Astaghfirullah! Apa yang kupikirkan?!” seru Aisha tiba-tiba. Alika hanya menatapnya heran dan geleng-geleng. Mungkin beginilah reaksi seorang penulis apabila menemukan inspirasi baru, batinnya.
***
Aisha Nur Arsyi...
                Pagi yang cerah dan indah. Indah karena pagi ini ia sudah melihat sosok jelita bidadari subuh itu. Walau masih malu-malu, ia tetap merasa senang. Ditambah lagi dengan adanya kabar tentang gadis itu yang telah mendapat gelar penulis remaja terbaik nasional. Apabila waktu bisa dipercepat sampai ia cukup umur untuk mengkhitbah gadis itu, ia pasti rela menukarnya dengan apapun. Ia takut dosa. Ia takut tidak bisa menahan perasaannya, dan kembali menjadi Muhammad Facrullah yang dulu. Muhammad Fachrullah yang seorang pendurhaka dan pendosa.
                “Assalamu’alaikum, Kang Arul,” sapa Anwar, adik kelasnya.
                “Wa’alaikumsalam, Anwar. Ada apa?” balas Arul, ramah. Anwar tersenyum dan langsung mengeluarkan beberapa lembar kertas berwarna seukuran A4 pada Arul. Sebuah tulisan cerpen, yang berjudulkan Remaja-Remaja Surga di halaman pertamanya.  Senyum puas merekah di bibir Arul. Ia menerima kertas itu dan langsung menjabat tangan adik kelasnya.
                Syukran, Anwar. Semoga Allah membalas kebaikanmu, amin,”ucap Arul. Anwar balas tersenyum dan undur diri dari perbincangan.
                “Sama-sama, Kang. Insya Allah majalah dinding bulan depan bisa lebih baik dari yang sekarang. Syukran juga atas bantuan Kang Arul yang selama ini selalu mengajari saya banyak hal. Baik dunia jurnalistik maupun keagamaan. Saya ke kelas dulu ya, Kang. Assalamu’alaikum.”
                “Wa’alaikumsalam,” balas Arul. Ia menunggu sampai sosok Anwar hilang, dan langsung mulai membaca lembaran pertama kertas itu.
                Lima sampai sepuluh menit sudah Arul membaca. Saat baru selesai, matanya mendung menahan haru. Sungguh maha karya yang luar biasa. Ia hampir tidak percaya kalau cerpen ini dibuat oleh seorang gadis remaja yang umurnya baru menginjak enam belas tahun. Alurnya mengalir lancar bagai air. Bahasa yang digunakan juga begitu halus, cerdas, dan tidak menggurui. Dibanding karya-karya emas Aisha sebelumnya, menurut Arul inilah yang paling bagus.
                “Fauzan harus membacanya..” gumam Arul. Ia memasukkan kertas itu ke dalam tasnya, sambil lalu berjalan ke pintu keluar masjid. Saat hendak memakai sepatu, tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari samping dan mengucapkan salam. Spontan Arul menoleh. Di sampingnya, duduklah Abdullah, kakak kelasnya yang sekarang sudah berstatus alumni. Lelaki berperawakan tinggi itu menyunggingkan seutas senyum ramah yang langsung disambut senyuman juga oleh Arul.
                “Wa’alaikumsalam, Kang Dullah. Ada rapat lagi, ya?”
                “Enggak. Saya mau bicara sesuatu sama kamu, Rul. Ada waktu?”
                “Tentu, Kang. Memangnya ada hal apa yang ingin dibicarakan? Kelihatannya penting sekali.” Abdullah pun menghela napas pelan, dan langsung membisikkan sesuatu di telinga Arul.
                “Saya sudah selidiki tentang orang yang mengeroyok adikmu, Rul. Teman-temanku yang tinggal dekat rumahmu semuanya tahu siapa orang itu. Namanya Agus, teman SMP adikmu. Saya memang belum terlalu yakin, tapi menurut saksi mata, ciri-ciri orang itu mirip sekali dengan Agus Hendrawan. Cowok bengal yang tergila-gila pada Aisha Nur Arsyi, siswi kelas sebelas itu. Adikmu kenal dengan gadis itu, kan?”
                Hati Arul mencelos. Ia baru ingat kalau Aisha Nur Arsyi itu adalah gadis yang disukai adiknya. Yang disukainya juga...
                “Oh.. Iya, Kang. Terima kasih banyak atas bantuan Akang selama ini. Insya Allah akan saya tanyakan langsung pada adik saya. Kesehatan dan kesadarannya memang belum pulih seratus persen, tapi walau begitu, ia sudah bisa mendengar dan berbicara sedikit-sedikit. Nanti kalau ada kemajuan, Insya Allah akan saya kabari Akang lagi. Syukran, Kang. Assalamu’alaikum.”
                “Wa’alaikumsalam,” balas Abdullah, lalu ia masuk ke masjid, meninggalkan Arul dengan segala pikiran dan dilemanya.

*Bersambung*

Berlanjut ke Heaven (Part 2)