Kamis, 21 Maret 2013

Tugas Pendidikan Kewarganeraan - Hak dan Kewajiban Warga Negara Menurut Pasal 30 UUD 1945


Tugas.. tugas.. dan tugas..
Sekilas kata-kata di atas memang terlihat seperti sebuh keluhan. Tersirat asa yang hampir putus ketika mendengarnya keluar dari mulut para mahasiswa. Namun jika boleh diibaratkan, kuliah/sekolah tanpa tugas, bagaikan taman tak berbunga. Tidak setuju? Atau sangat setuju? Silakan tanya pada hati kecil Anda...

Mata kuliah softskill yang ada di Universitas Gunadarma merupakan salah satu sumber “tugas” bagi mahasiswa. Pertemuan tatap muka dengan dosen yang umumnya seminggu sekali, khusus mata kuliah ini hanya (biasanya) sebulan sekali. Sehingga tanpa adanya tugas, mahasiswa takkan mampu atau bahkan sudi untuk menguasai materi-materi yang terdapat dalam mata kuliah softskill. Mata kuliah softskill saya semester ini adalah Pendidikan Kewarganeraan, yang jujur saja memiliki andil sama pentingnya dengan mata kuliah lain dalam hal pembangunan karakter. Dan tentu saja, alasan utama adanya tulisan ini adalah karena tugas mata kuliah softskill itu, selain hobi saya yang memang menulis...

Tugas saya yang pertama adalah memaparkan mengenai hak dan kewajiban warganegara, yang tertuang dalam pasal 30 Undang-undang  Dasar 1945. Menurut beberapa buku, internet, dan referensi lainnya, UUD 1945 pasal 30 membahas tentang Pertahanan dan Keamanan negara yang berkaitan dengan hak dan kewajiban warga negara. Hak merupakan suatu kewenangan untuk melakukan atau mendapatkan sesuatu (yang sesuai dengan undang-undang, aturan, dll), sedangkan kewajiban adalah sesuatu yang harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab.

Sedangkan isi dari Pasal 30 UUD 1945 (Bab XII) itu sendiri adalah:
(1)   Tiap-tiap warganegara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara
(2)   Usaha pertahanan dan keamanan Negara dilaksanakan melalui sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta oleh Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia, sebagai kekuatan utama, dan rakyat sebagai kekuatan pendukung
(3)   Tentara Nasional Indonesia terdiri atas Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara sebagai alat Negara yang bertugas mempertahankan, melindungi, dan memelihara keutuhan dan kedaulatan negara
(4)   Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai alat Negara yang menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat bertugas melindungi, mengayomi, melayani masyarakat, serta menegakkan hukum
(5)   Susunan dan kedudukan Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Negara Republik Indonesia, hubungan kewenangan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam menjalankan tugasnya, syarat-syarat keikutsertaan warga negara dalam usaha pertahanan dan keamanan diatur dengan undang-undang

“Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara”

Dari kutipan tersebut, kita bisa menarik sebuah garis yang jelas mengenai hak dan kewajiban kita sebagai warga negara. Warga negara itu siapa saja? Kita sebagai rakyat sipil? TNI? POLRI? Menteri? DPR? Atau Presiden?
  
Jawabannya adalah semuanya...

Pertahanan dan keamanan negara adalah hak setiap warga negara melalui sebuah sistem. Sistem tersebut didukung oleh Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk mempertahankan keamanan negara. Keduanya merupakan kekuatan utama, sedangkan kita sebagai rakyat berperan sebagai pendukung dalam melaksanakan pertahanan negara dari berbagai ancaman dan gangguan. Walau pun di dalam Undang-Undang Dasar Pasal 30 di atas dikatakan bahwa TNI dan Kepolisian memiliki tugas yang berbeda, namun mereka sama-sama memiliki tanggung jawab yang mulia dan besar dalam bertugas melindungi masyarakat dan negara.

Dewasa ini kasus kriminal sedang marak terjadi. Dampaknya sangat meresahkan masyarakat. Kasus pembunuhan, penipuan, pencurian, korupsi, dan hal-hal mengerikan lainnya seakan-akan menjadi “sarapan” sehari-hari bagi masyakarat. Tugas kepolisian adalah memberantas kasus kriminal tersebut, sehingga masyarakat bisa bernapas lega, yang artinya keamanan rakyat pun terpenuhi kembali.

 Namun yang sangat disayangkan, kini mulai muncul anggapan miring mengenai polisi hanya karena ulah beberapa oknumnya yang tidak bertanggung jawab. Menciptakan pendapat umum bahwa kepolisian bukan lagi lembaga yang mengayomi rakyat, bahkan memunculkan opini bahwa tanpa adanya kejahatan, polisi tidak akan mendapat makan...

Opini itu sangat... mengerikan...

Kita, rakyat biasa, berperan menjadi elemen pendukung dari kedua instansi tersebut (TNI dan POLRI). Apa peran kita? Sekali lagi, menjadi pendukung.. mendukung dengan cara apa? Tentu saja dengan selalu menaati peraturan yang berlaku. Tidak melakukan hal yang meresahkan, merenggut hak orang lain secara paksa, tidak melakukan tindak anarkis, dan jugatindak kriminal lainnya. 
Apabila melihat suatu pelanggaran yang terjadi di depan mata, jangan pula menutup mata. Laporkan. Minimal laporkan. Jangan hanya berpangku tangan membiarkan polisi sendiri saja yang memberantas kejahatan. Seperti yang selalu dikatakan orang, mencegah lebih baik daripada mengobati..

Menghindari perseteruan dengan negara lain juga merupakan suatu wujud dari dukungan masyarakat dalam meringankan tugas TNI. Menjalin hubungan baik dengan negara lain, menghormati kepentingan negara lain, bahkan menyikapi secara dewasa dan bijak segala hujatan dari negara lain terhadap masyarakat Indonesia—tanpa menurunkan harga diri—tentu saja akan menghindari peperangan yang tentunya sangat tidak diinginkan. Intinya sebagai masyarakat, kita jangan selalu mengedepankan ego pribadi. Setiap warga negara memang memiliki hak untuk melakukan apa pun asalkan tidak melanggar undang-undang, namun harus disadari pula bahwa kita yang menjadi rakyat tak hanya kita sendiri, masih ada orang lain yang pula memiliki hak. Kewajiban kita adalah menghormati hak-hak orang lain tersebut. Itu yang paling sederhana. Karena apabila hak dan kewajiban dapat dijalankan dengan seimbang, yang akan muncul kemudian adalah kedamaian, yang melahirkan keamanan, yang tentunya sangat berteman baik dengan ketahanan nasional.

Hanya itu mungkin yang dapat saya terbitkan mengenai tugas pertama (Hak dan Kewajiban warga negara menurut UUD 1945 Pasal 30). Kini lanjut ke tugas selanjutnya yang terdiri dari 5 poin pertanyaan.

1.      Jelaskan tujuan pendidikan nasional!

Suatu peradaban bisa dikatakan maju apabila masyarakatnya berbudaya. Budaya lahir dari sebuah pemikiran, kemudian dilakukan, dan dijadikan kebiasaan, sehingga terus diikuti oleh generasi-generasi selanjutnya, sampai dengan saat ini kita sedang bernapas.  Budaya lahir dari sebuah pemikiran.. bagaimana jadinya kalau yang melahirkan budaya itu memiliki pemikiran yang tidak baik? Membayangkannya saja sudah membuat saya merinding...

Satu-satunya yang dapat memperbaiki pemikiran adalah pendidikan. Bangsa Indonesia juga lahir dari sebuah pemikiran cerdas dari para pendahulu, sehingga masih bisa berdiri kokoh sampai saat ini, walau segala cobaan terus datang menerpa permukaan negeri. Seperti yang disebutkan pembukaan UUD 1945, salah satu tujuan Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.. mencerdaskannya melalui apa? Tentu saja dengan pendidikan. Tanpa adanya pendidikan nasional, jangan pernah berani membayangkan bangsa Indonesia masih akan harum namanya di tahun 2020.. dan jangan berani pula membayangkan nama Indonesia masih akan tertera di daftar penerima juara internasional olimpiade matematika.. 

Mendapatkan pendidikan yang layak merupakan hak dari seluruh rakyat Indonesia, karena hal itu sudah tercantum dalam Undang-undang dasar 1945, pasal 28c dan 31 yang berbunyi sebagai berikut:
Pasal 28c:
(1)   Setiap orang berhak untuk mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.
(2)   Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa, dan negaranya.

Pasal 31:
(1)   Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan
(2)   Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya
(3)   Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak muliah dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang
(4)   Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional
(5)   Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.

Jadi intinya, yang menjadi tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa..

2.      Jelaskan pengertian bela negara dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara!

Bela negara merupakan wujud dari pembelaan negara yang menunjukkan kecintaan serta kebaktian terhadap negara sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, bela negara masih berhubungan dengan UUD Pasal 30. Bela negara tak selalu identik dengan ikut serta dalam peperangan. Menjadi warga yang taat hukum, berprestasi, dan warga yang selalu berlomba-lomba dalam kebaikan juga bisa menjadi wujud dari bela negara, karena nantinya keharuman nama negara lah yang akan terindrai. Tak perlu kita muluk-muluk, berusaha mati-matian membela nama negara dengan cara yang anarkis. Cukup menjadi masyarakat yang dewasa dan bijaksana, itu juga sudah melakukan suatu bela negara. Apabila ada negara lain yang berusaha mengusik kita, dengan misalnya, yang marak terjadi akhir-akhir ini, pengakuan budaya Indonesia oleh negara tetangga. Hal itu tentu menjadi penyulut api yang handal bagi semangat rakyat Indonesia untuk mempertahankan kebudayaannya, namun harus dengan cara yang benar. Cara yang benar itu, yang seperti apa? Yaitu dengan melestarikan budaya bangsa.. bangga pada budaya bangsa.. dan jangan selalu memelihara pemikiran yang terlalu mengagung-agungkan budaya luar. Itulah hal paling sederhana yang dapat dan harus kita lakukan dalam usaha pembelaan negara.

3.      Jelaskan tujuan Pendidikan Kewarganegaraan diberikan di Perguruan Tinggi!

Pada saat kita melihat FRS (Formulir Rencana Studi) dan menemukan terselipnya mata kuliah Pendidikan Pancasila di salah satu daftar mata kuliah yang tersedia, mungkin yang pertama terjadi adalah menaiknya alis kiri kita, sambil kita bergidik membayangkan akan kembali ke masa Sekolah Dasar lagi. Tentu hal itu terjadi bagi mahasiswa yang belum menyadari pentingnya mata kuliah ini. Padahal menurut saya, mata kuliah semacam Pendidikan Kewarganegaraan sangat dibutuhkan oleh siapa saja.. terutama mahasiswa yang jalannya menuju kenyataan hidup tinggal selangkah lagi, karena Pendidikan Kewarganegaraan adalah mata kuliah pembangun karakter berkebangsaan. Melalui Pendidikan Kewarganegaraan, mahasiswa dibantu untuk menemukan jati dirinya sebagai insan bernegara. Melalui Pendidikan Kewarganegaraan, mahasiswa akan mengetahui hak dan kewajibannya dalam menjadi warga negara, sehingga tak akan ditemukan lagi orang yang berkelakuan layaknya manusia tak berbangsa. Rasa cinta tanah air pun akan tumbuh apabila kita mempelajari Pendidikan Kewarganegaraan. Tujuan dan pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan diberikan di Perguruan Tinggi adalah karena di dalamnya tertampung ribuan, bahkan jutaan bibit-bibit pemimpin generasi mendatang. Apabila tak dibekali dengan pendidikan kewarganegaraan yang baik, siap-siap saja negeri ini akan goyah ketika kepemimpinan jatuh ke tangan generasi muda...

4.      Jelaskan kompetensi yang diharapkan dari Pendidikan Kewarganegaraan!

Dengan adanya Pendidikan Kewarganeragaan ini, tentunya terselip kompetensi yang diharapkan. Harapan tersebut adalah:
-          Tumbuhnya rasa cinta tanah air dan sesama dalam diri mahasiswa
-          Mahasiswa tahu dan paham mengenai hak dan kewajibannya sebagai warga negara
-          Mahasiswa mampu mengamalkan Undang-undang dan mematuhi hukum yang berlaku di Indonesia
-          Mahasiswa mampu menjadi pemimpin yang berwawasan kenegaraan
-          Dan banyak lagi..

5.      Jelaskan pengertian pendidikan kewiraan!

Pendidikan kewiraan, atau yang biasa kita sebut sebagai Pendidikan Kewarganegaraan adalah:

Pendidikan kewarganegaraan adalah pendidikan demokrasi yang bertujuan untuk mendidik generasi muda menjadi warga negara yang demokratis dan partisipatif melalui suatu pendidikan yang dialogial” (Merphin Pandjaitan)

Pendidikan kewarganegaraan adalah pendidikan politik yang bertujuan untuk membantu peserta didik untuk menjadi warganegara yang secara politik dewasa dan ikut serta membangun sistem politik yang demokratis” (Soedijarto)

Dari 2 definisi yang tertera di atas, dapat kita simpulkan bahwa Pendidikan Kewiraan atau Pendidikan Kewarganegaraan merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang tata cara atau strategi kehidupan berbangsa dan bernegara, berpolitik, serta yang membantu dalam usaha pembangunan sistem politik yang demokratis.

Amanda Dwi Praharani
2EA01/10211657
Universitas Gunadarma

Rabu, 20 Maret 2013

CERBUNG - Heaven 4


Udara terasa dingin. Kulit teraba panas. Jalanan mendadak bergelombang. Langit-langit seakan bimbang untuk runtuh atau bertahan. Kedua tangan juga berpeluh, membuat licin menyebabkan terjatuhnya buku tulis bersampul coklat yang hanya mengeluarkan suara debam ringan, bergaung di dinding-dinding koridor. Aisha merasakan kepalanya tiba-tiba pusing. Perutnya mual, dan matanya berkunang-kunang. Serangan ini terjadi begitu saja, padahal sebelumnya ia masih merasa sehat. Untuk menghilangkan nyeri kepalanya, ia pun duduk di bangku panjang tak jauh dari tempatnya berdiri. 

Tersisa beberapa menit lagi sampai bel masuk jam pertama dibunyikan. Aisha memilih untuk melawan sakitnya dan berjalan kembali ke kelas. Di sana, keadaan mulai kondusif, tak seramai saat ia baru datang tadi. Kedatangannya disambut dengan kerutan dahi oleh Alika.

“Sha, kamu sakit, ya? Wajahmu pucat..” cemas Alika. Ia menempelkan telapak tangannya pada dahi Aisha, dan memekik pelan merasakan panasnya. “Kamu demam!”

“Aku enggak apa-apa, Lika. Hanya pusing sedikit. Minum air juga sembuh,” terang Aisha, ia tidak ingin membuat Alika khawatir. Kepalanya memang masih pusing, namun tak sesakit tadi. “Oh, iya.. buku PR-ku akhirnya ketemu loh! Hehe.”

“Kamu ini, masih saja bisa tertawa.. yakin enggak mau ke UKS? Kuantar.. mumpung belum mulai pelajaran, gimana?” desak Alika. Namun Aisha hanya menggeleng sambil tersenyum. Untuk memberi tanda kalau pembicaraan lebih baik tak diteruskan, Aisha membuka buku PR-nya. Tugasnya sudah selesai dikerjakan, hanya tinggal dikumpul saja. 

“Ya sudah kalau begitu. Oh, iya, Sha, coba kulihat tugasmu, ingin kusamakan, hehehehe..” kata Alika. Aisha menyerahkan bukunya. Saat dibuka-buka, Alika tertegun melihat kertas kecil yang terselip di halaman paling tengah. Sebuah surat, yang nampaknya ditulis buru-buru.”Sha, kayaknya ada yang menyelipkan pesan di bukumu.”

“Apa? Mana?”

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Aisha, apa kabar? Kuharap baik-baik saja. Tadi pagi saat main ke sekretariat, aku enggak sengaja menemukan bukumu. Tujuanku menulis surat ini adalah ingin memohon maaf padamu, Sha, karena aku telah menyalin tugasmu tanpa seizinmu. Kuharap kamu tidak marah pada kelancanganku.
Tresna Adi

“Tresna kelas kita, Sha?” tanya Alika. Aisha pun mengangguk, sambil menoleh ke bangku paling depan sebelah kiri, tempat Tresna duduk. Kebetulan saat itu Tresna sedang memandang ke arahnya juga. Buru-buru Aisha mengangkat surat tadi, dan tersenyum padanya. Disenyumi oleh Aisha, membuat Tresna spontan ikut tersenyum juga sambil mengangguk kikuk. 

“Aku baru sadar kalau Tresna itu suka sama kamu, Sha. Ya ampun..” celetuk Alika, yang langsung mendapat cubitan pelan dari Aisha. Mereka berdua pun tertawa bersama, sambil kemudian bercengkrama sampai guru Kimia yang sedari tadi ditunggu-tunggu datang..

***
“Apa? Jadi bintang tamu? Kenapa.. aku?”

Aisha baru saja diminta oleh Erna, panitia Seminar Jurnalistik, untuk menjadi bintang tamu di acara tersebut. Ditembak seperti itu tentu saja Aisha terkejut. Apalagi ia tak pernah menjadi bintang tamu atau pembicara di acara mana pun. Awalnya ia ingin langsung menolak tawaran itu, namun ia urungkan. Kesempatan tak datang dua kali.

“Jadi, apa yang harus kubicarakan saat acara nanti? Kalau soal pemberian materi, nampaknya aku tak pantas untuk menyampaikannya..” ujar Aisha. “Lagipula aku ini masih penulis baru.. memangnya kalian, panitia, yakin untuk mengundangku menjadi pembicara?”

“Insya Allah, kami yakin kamu sesuai, Sha. Tema acara ini kan ‘Anak Muda, Pena, dan Jendela Dunia’, jadi sangat cocok dengan riwayatmu yang menjadi penulis di usia muda. Untuk pemberian materi, kami sudah mengundang Mas Rangga Setiadi, Reporter salah satu stasiun TV swasta. Jadi yang perlu kamu lakukan hanya membagi cerita mengenai perjalananmu sampai bisa menjadi penulis sukses seperti sekarang ini, sehingga bisa menjadi inspirasi bagi seluruh murid, Sha. Aku tahu sekali, kamu potensial!” bujuk Erna, tak lupa mengeluarkan jurus rayuan mautnya. Kalau boleh jujur Aisha agak sedikit ge-er mendengar sanjungan Erna barusan, namun buru-buru ia menepisnya, dan kembali ke pembicaraan.

“Kalau begitu, Insya Allah aku bisa, Na.. mohon bimbingannya, hehehehe..” 

Erna tersenyum puas. Setelah terjadi kesepakatan, Erna pun pamit dan meninggalkan Aisha sendiri. Menjadi pembicara di suatu seminar... jujur saja Aisha memang selalu memimpikannya. Setelah sosok Erna sudah menghilang di balik dinding koridor, Aisha pun balik badan dan meneruskan perjalanannya menuju masjid.

***

“Aisha akan jadi pembicara saat seminar jurnalistik nanti.. kamu tahu?”

Arul dan Fauzan, sedang asyik menonton acara televisi kesayangan mereka di kamar sang adik. Saat Arul mengatakan perihal Aisha, perhatian Fauzan pada televisi sepenuhnya teralih.

“kamu serius? Kapan acaranya?” tanya Fauzan.

Alih-alih menjawab pertanyaan adiknya, Arul hanya menyerahkan selembar pamflet. Promosi seminar jurnalistik.

“Minggu depan.. wah.. aku bisa datang enggak, ya, kira-kira?” gumam Fauzan sambil terus memandangi kertas itu lekat-lekat. Jangankan datang ke sekolah untuk seminar.. berjalan saja ia sulit..

“Kalau kamu mau, biar kubantu. Kebetulan mobil ayah tidak digunakan untuk minggu depan, jadi aku bisa memakainya. Kamu ikut denganku..” ujar Arul, yang spontan membuat mata Fauzan melebar. “Kenapa kamu melotot begitu?”

“Kamu.. bisa nyetir mobil? Punya SIM???!!!”

“tepat sehari setelah ulang tahun kita yang ketujuh belas beberapa minggu lalu, aku sudah buat SIM A.. Karena kalau menunda-nunda, aku takut tak kebagian waktunya.. kamu tahu sendiri sebentar lagi aku akan menghadapi Ujian Nasional..” jelas Arul panjang-lebar. Bibir kiri atas Fauzan naik dan berkedut. Tanda ia sedang keki setengah mati.

“Jadi.. kamu belajar nyetir mobil gak ngajak-ngajak aku, hah? Ya Allah.. aku iri.. sumpah aku iri...”
Arul hanya tersenyum menghadapi rajukan adik kembarnya. Sejak kedua orang tuanya sering keluar kota untuk urusan bisnis, Arul otomatis berperan menjadi semacam “orang tua” bagi Fauzan. Sebenarnya Ayah dan Ibunya berat meninggalkan mereka berdua, terlebih dengan keadaan Fauzan yang masih belum pulih. Namun Arul bersikeras mempersilakan orang tuanya pergi karena tidak ingin mengganggu bisnis keluarga. Untuk urusan rumah tangga sudah ada pelaksana yang mengerjakan, jadi yang Arul butuh lakukan hanyalah menjaga Fauzan saja.

“Makanya cepat sembuh.. kalau kamu sudah bisa jalan lagi, Insya Allah akan kuajak kau belajar mobil..”

***

Waktu seminggu cepat sekali berlalu. Sejak dirinya diminta menjadi pembicara pada seminar jurnalistik, jantungnya tiada hentinya berdetak penuh gairah. Di kepalanya selalu terngiang kata-kata yang akan diucapkannya di acara penting itu nanti. Apa yang akan dilakukannya. Juga apa yang akan ditemuinya kelak. Ini sungguh kesempatan emas.. 

Kini ia masih berada di kendaraan umum menuju seminarnya di sekolah. Jalanan padat merayap. Suasana pagi di jalan raya yang biasa, tak pernah sekali pun menyurutkan semangatnya. Sengaja ia berangkat 2 jam lebih awal dari jadwal. Ia tidak ingin datang terlambat, yang akhirnya akan merugikan semua pihak. Lagipula dadanya membutuhkan adaptasi. Ia butuh menghirup lebih banyak udara demi kelancaran penampilannya nanti. Namun saat Aisha, yang selalu memilih tempat duduk paling dalam dekat jendela, menoleh ke sebelah kanannya, pemandangan mengejutkan pun tersaji..

Kak Arul..

Terlihat olehnya, sosok Muhammad Fachrullah yang sedang mengemudi mobil, bersama seseorang di sampingnya yang... 

"Kak Arul.. punya saudara kembar...?" Aisha tak sengaja menyuarakan hatinya. Jujur, melihat satu Muhammad Fachrullah saja sudah mampu membuat jantungnya serasa berlari.. dan kini ia malah melihat.. dua? sebenarnya dia siapa?

Mata Aisha bersambut dengan kedua mata dari mobil di belakang angkutan umum yang sedang dinaikinya itu. Tatapan keduanya sama persis. Sama-sama membuat Aisha sulit bernapas dengan benar. Senyum sopan pun merekah dari bibir kedua anak kembar itu, yang hanya dibalas anggukan sopan oleh Aisha yang sebenarnya sedang mati kutu...

Lima belas menit kemudian Aisha sudah sampai di sekolahnya. Tepat seperti dugaan, sekolahnya ramai sekali. Di atas gerbang, terpampang spanduk informasi seputar seminar jurnalistik, yang sungguh membuat Aisha agak malu dan terharu, karena terpajang pula foto dirinya yang diketahui sebagai pembicara, berdampingan dengan foto Mas Rangga Setiadi. Secara naluriah ia pun menutupi wajahnya dengan tangan untuk menyembunyikan rona merah pipinya, dan berjalan sewajar mungkin memasuki sekolah tanpa ingin menjadi pusat perhatian. Tiba-tiba jalannya pun terhenti karena namanya dipanggil oleh seseorang dari belakang...

"Aisha.."

Aisha menoleh. Dan jantungnya...

"i..iya? ada apa..?" 

Muhammad Fachrullah dan kembarannya, kini berdiri persis di depan Aisha. Keduanya begitu mirip. Tinggi dan postur tubuhnya juga sama. Namun yang membedakan keduanya, hanyalah gaya rambutnya. Muhammad Fachrullah yang Aisha kenal memiliki rambut pendek yang dipotong rapi, sangat terkesan intelektual. Sedangkan yang di sebelahnya.. rambutnya pendek juga, namun agak ikal.. memberikan kesan lebih muda dan bersemangat.. selalu tersenyum lebar saat memandang Aisha.. berbeda dengan Muhammad Fachrullah yang hanya tersenyum sopan dan dingin jika bertemu dengan Aisha..

"Assalamu'alaikum, Aisha.. masih ingat denganku? aku Fauzan.." 

Aisha tertegun. Ternyata suara yang menghentikan langkahnya tadi adalah milik kembaran Kak Arul, bukan dia..

"Wa'alaikumsalam.. Fauzan.. saudara kembarnya Kak Arul.. ya?" jawab Aisha, masih tertegun. Menyadari Aisha telah menyebut namanya, senyum Fauzan pun makin merekah. Membuat resah pemilik jantung yang tengah berdiri di sebelahnya...
"Iya, aku adik kembarnya Arul. Sebenarnya aku siswa sekolah ini juga, namun karena sesuatu hal, aku terpaksa meliburkan diri.." jelas Fauzan sambil menyodorkan sedikit tangan dan kaki kanannya yang masih dibebat dan ditopang tongkat. "Dan kebetulan menyenangkannya lagi, aku sekelas denganmu, Aisha."

"Jadi kamu yang namanya Muhammad Fauzan.. pantas saja tidak pernah masuk sekolah, lukamu parah sekali.. apa sakit?" tanya Aisha polos, yang membuat senyuman Fauzan makin merekah. Aisha tahu pertanyaannya tadi sungguh kekanak-kanakan, namun ia berani bersumpah telah melihat senyuman tipis di bibir Kak Arul.. tipis dan.. sungguh manis.. namun terkesan getir?

"Baiklah kalau begitu saya undur diri karena sudah ditunggu panitia.. selamat menikmati acara, Fauzan dan.. Kak Arul.." ujar Aisha, agak lirih. Ia pun mengucapkan salam dan berbalik meninggalkan Fauzan yang masih tersenyum malu-malu, juga Arul yang jujur saja dalam pikirannya tengah terjadi peperangan antara cinta dan akal sehatnya... 

"Semoga penampilanmu lancar.." batin Arul.

 





Selasa, 08 Januari 2013

Menulis vs Membaca, atau Menulis feat. Membaca?

Lebih suka mana, menulis atau membaca?

Jika ditanya seperti itu, mungkin saya akan menjawab keduanya. Namun bagaimana apabila sang penanya hanya menginginkan satu jawaban pasti?

Menulis, berarti menciptakan karya sastra. Membaca, berarti melestarikan karya sastra. Sesuatu tak akan bisa dilestarikan apabila tanpa adanya penciptaan terlebih dahulu, namun apakah suatu ciptaan itu bisa bertahan apabila tanpa adanya pelestarian? nah.. bingung, kan? hehehehe

Menulis dan membaca, bagaikan raga dengan nyawanya, hanya akan bisa berjalan baik apabila keduanya terpenuhi. Bagaikan paru-paru dengan udaranya, hanya akan bisa bernapas apabila keduanya saling berpaut tangan memanjangkan kehidupan. Menulis tanpa membaca, sama saja sedang berjalan pada kehampaan, yang isinya hanya kegelapan.

Jadi intinya, saya tidak akan bisa memilih mana yang lebih baik dan saya suka, karena keduanya merupakan elemen-elemen yang membuat saya bisa sampai sejauh ini. Mungkin bagi sebagian orang ada yang dapat dengan mantap memilih salah satunya, namun hal itu tergantung pada orang itu sendiri.

"Pena adalah rangka dunia. Mata adalah jendela dunia."

 

Sabtu, 05 Januari 2013

CERBUNG - Unpredictable


“Lagi nulis apaan, Man?”
Saat itu, kelas sepuluh empat sangat ramai karena tak ada guru. Di bangku paling depan, paling dekat dengan pintu, Manela sedang asyik menulis sesuatu di bindernya, sampai tak menyadari namanya terus saja dipanggil-panggil oleh Ariana yang berdiri di depan mejanya sambil berkacak pinggang. Tak sabar, akhirnya Ariana pun nekat menarik binder Manela, yang membuat gadis itu mendongak kesal.
“Apa-apaan, sih, Ri? Aku lagi nulis..” protes Manela yang sama sekali tak digubris Ariana, yang sedang takjub membaca tulisan di binder tersebut. Sebuah tulisan puisi berjudul “Rangka Sepuluh Empat” di atasnya.
“Ini buat tugas nanti, Man? Well, gaya tulis puisimu unik, aku suka,” kata Ariana, tersenyum. Manela yang dari dulu paling tidak tahan dengan pujian pun ikut tersenyum, namun langsung menyambar bindernya lagi dengan ganas.
Ariana duduk di sebelah Manela. Mempermainkan jari-jari tangannya sebentar, lalu menoleh dan menatap bimbang temannya yang sedang menulis. Berkali-kali ia katupkan bibirnya seperti memakan kembali ucapan yang ingin diutarakan. Namun setelah mengambil napas dalam berkali-kali, akhirnya ia menyerah dan memutuskan untuk menyimpan kembali niatnya.
“Kenapa enggak ngomong, Ri? Aku dengerin kok,” ujar Manela tiba-tiba, membuat Ariana kaget karna gerak-geriknya ketahuan. Ia menyapu pandangannya ke seantero kelas; tak ada yang memperhatikan dan berada cukup dekat untuk menangkap percakapan mereka. Ia menelan ludah, dan menyeka keringat di atas bibirnya.
“Man.. kamu kenal sama..” Ariana tak mampu melanjutkan.
“Kak Putra? Iya, aku tahu dia. Kenapa?”
Sekali lagi Ariana dibuat kikuk oleh temannya yang seperti dukun ini. Sebenarnya ia heran, darimana Manela tahu isi pikirannya??
“Kok kamu tahu, sih? Err.. aku cuma mau tanya saja.. hehehe..”
“Aku dengar dia akan diturunkan untuk pertandingan futsal antar SMA minggu depan. Kamu bersiap saja, sebagai anggota PMR, kamu pasti akan diminta untuk mengawal mereka. Tempatnya di GOR Pajajaran,”
Ariana hanya mengedipkan matanya pilon. Kok Manela tahu yang mau aku tanyain, sih??
“Hmm.. oke aku tahu kamu kayak dukun, tapi yang aku penasaran, apa itu semua bisa dipercaya? Maksudku kamu tahu darimana aku mau tanya itu??” Ariana mulai frustrasi. Akhirnya Manela pun menutup bindernya, dan mengubah posisi duduknya menghadap Ariana.
“Belum lama tadi, Kak Putra lewat depan kelas kita, kan?” Ariana mengangguk. “Terus kamu ngeliatin dia, sampai dia belok ke balik dinding itu, kan?” Ariana mengangguk lagi. “Dan lagi, setelah itu kamu langsung nyamperin aku dan ganggu aku, kan?”
Seperti mainan yang diputar sekrupnya berkali-kali, Ariana kembali mengangguk.
“Terus kamu masih bingung darimana aku tahu isi pikiranmu?”
Kali ini Ariana menggeleng.
“Hmm.. memangnya aku sekikuk itu, ya?” tanya Ariana.
Manela hanya menghela napas dan tersenyum singkat. Sebenarnya bukan maksudnya untuk bersikap tak peduli seperti itu, ia hanya sedang tidak dalam mood yang sesuai.
Bel tanda berakhirnya istirahat pun berbunyi. Murid-murid yang tadinya menyebar di seantero kelas pun kembali ke tempat duduknya masing-masing. Mengakhiri segala aktivitas mereka, termasuk percakapan antara Ariana dan Manela yang masih membuat merah wajah putih nan cantik Ariana. Selang beberapa menit kemudian, guru Fisika pun datang...
***
“Oke, yang akan ikut minggu depan itu.. Sinta, Adin, Fika, Faishal, dan Ariana.”
Begitu namanya disebut, Ariana langsung menelan ludah. Benar “ramalan” Manela. Ia akan ikut menjadi tim medis pada pertandingan futsal yang akan diikuti Kak Putra minggu depan. Sebenarnya ia grogi setengah mati, namun selain di depan Manela, ia adalah orang yang sangat pandai menyimpan perasaan. Jadinya tak ada satu pun di ruangan itu yang merasakan tak beraturannya detak jantungnya.
“Saya harap kalian bekerja dengan maksimal. Walau pun tak banyak anggota yang turun, saya percaya kalian adalah tim terbaik, yang pastinya bisa menangani situasi apa pun. Apa kalian mengerti?”
Rapat berakhir pada pukul setengah empat sore. Alih-alih pulang, Ariana langsung ke masjid untuk shalat ashar. Masjid sangat sepi. Saat ia duduk di beranda untuk membuka sepatunya, tiba-tiba terdengarlah suara celotehan yang sangat dikenalnya. Mendadak jantungnya seperti ingin melompat. Jangankan melihat wajah, mendengar suaranya saja sudah membuatnya berdebar-debar.
“Hahaha, tenang aja, gue gak akan melewatkan kesempatan emas untuk nyetak gol di gawang BBS minggu depan,” ujar Kak Putra penuh percaya diri. Dua orang teman yang jalan bersamanya pun spontan langsung merangkulnya brotherly. Selain ganteng dan rajin shalat, Kak Putra memang terkenal dengan sifat supelnya.
Tiga sekawan itu duduk di beranda juga, tak jauh dari tempat Ariana yang hanya dihalangi hijab. Mereka bertiga nampaknya tidak menyadari kehadiran gadis itu.
“Put, lo banyak kenalan anak kelas satu, kan?” tanya Kak Riko, cowok hitam manis yang belakangan Ariana tahu sebagai kecengannya Manela.
“Hmmm enggak banyak juga sih, memang kenapa?”
“Kalau dilihat dari gelagatnya, gue yakin si Riko ini lagi naksir cewek, iya kan?” tembak Kak Fadly, teman yang satu lagi.
Ariana yang mendengarnya juga ikutan deg-degan. Ia pun pura-pura membaca catatannya agar bisa mendengar percakapan mereka lebih lama.
“Eh, Apaan sih? Bukan itu maksud gue..”
“Anak kelas satu yang gue tau itu cuma.. Heru, Hamzah, Jodi, Diko, Andra, dan lain-lain deh, di antara mereka ada yang lo maksud ga?” ujar Kak Putra. Namun Kak Fadly tiba-tiba menepuk bahunya sambil berdecak sok tahu. Membuat Kak Riko makin salah tingkah.
“Bukan cowok, Put. BUKAN cowok. Emang lo kira temen kita si Riko ini bakal malu-malu kucing hanya untuk nanyain tentang cowok ke lo? Gue sanksi sama kejantanannya kalo begitu,” timpal Kak Fadly. “Tapi nih, Ko. Setau gue, cewek yang lagi eksis itu ya si Nisa, Feby, Anggi, sama Elli.. Eh jangan Elli deh, nanti Putra marah lagi, hehehe.”
“Elli? Putra lo naksir Elli?!” seru Kak Riko, heboh.
“Apa-apaan sih lo, Fad. Jangan bikin gosip macem-macem deh,” elak Kak Putra, namun dengan wajahnya yang memerah.
“Ga usah muna gitu, Put. Bukannya kemarin lo sendiri yang nanyain tentang Elli ke gue? Udah dikasih info bagus malah ngelak, ckck, ga asik ah,” goda Kak Fadly.”Eh.. tapi cewek yang lo mau tanyain itu bukan Elli juga kan, Ko?”
“Bukan dia.. ada.. tapi dia ga terlalu eksis.. gue sering liat dia di perpus.. dan belakangan gue tahu dia ikut eskul karate..”
                “Karate? Hmm.. tunggu.. anak kelas satu putri yang ikut karate cuma.. aahh.. Hani sama Manela, nah yang mana?”
                “Manela deh kalo ga salah namanya, hehehe,”
                Manela? Kak Riko suka sama Manela!
                “Manela? Yang sering bareng sama Ariana itu ya?” timpal Kak Putra. Dalam hati Ariana berteriak kegirangan. Kak Putra inget gue!
                “Lo apal banget nama sih, Put? Sampe Ariana aja lo inget. Atau jangan-jangan enggak cuma Elli nih..” pancing Kak Fadly lagi, yang langsung mendapat jotosan keras Kak Putra di lengannya.
                “Ga usah mancing deh, Elli aja belum beres, lo malah ngeledekin gue sama Ariana. Udah deh, kesorean nih asharnya. Lo sih pada ngobrolin cewek mulu,” Kak Putra pun bangun dan menarik lengan kedua temannya agar bangun juga. Setelah mereka masuk Masjid, Ariana kembali merenung. Dadanya terasa sesak.
                Elli.. Kak Putra suka sama Elli.. Bukan aku..

***
                Ariana sampai di rumah pada pukul lima sore. Percakapan yang tadi didengarnya di masjid masih memenuhi pikirannya. Ia senang bahwa Kak Riko ternyata juga menyukai Manela, namun di sisi lain, ia menyesal telah mendengar pembicaraan itu..
                Kak Putra suka sama Elli..
                Ariana memang tak berharap banyak bahwa perasaannya bisa terbalas. Namun tetap saja, sakit..
                “Ri, ada telepon dari Nela!” suara ibunya bergaung dari lantai dasar. Ia pun terpaksa membuyarkan lamunannya dan langsung turun.
                “Halo, Nela. Ada apa?”
                “Bagaimana hasil rapat tadi? Bener kan apa yang aku bilang?”
                “Iya bener kok..”
                “Ada apa denganmu? Kok enggak bersemangat begitu?”
                Hening sejenak, dipotong oleh hembusan napas panjang Ariana.
                Just tell me!
                “Iya, aku emang ditugaskan jadi tim medis minggu depan.”
                “Woaaa.. selamat yaaa!”
                well, yeah. Makasih, Nel.. oh, iya, Nel.. tadi aku...”
                “Apa?”
                Sebenarnya ia ingin langsung menceritakan tentang apa yang ia dengar di masjid tadi. Tentang perasaan Kak Riko pada Manela, juga hal lainnya. Namun tiba-tiba gairahnya meluap. Mungkin lebih baik besok saja menceritakannya.
                Nevermind. Nel, aku tutup dulu, ya? Mau mandi nih, gerah banget baru pulang, hehe.”
                “Oh Ya sudah, Ri. Ku tutup yaa..”
                Hening. Galau. Untuk beberapa saat ia tidak bergeming dari tempat. Entah sampai kapan ia bisa menyembunyikan hal ini dari Manela. Memang ada hak bagi Manela untuk tahu tentang perasaan Kak Riko. Namun jika ia menceritakannya, dadanya akan terasa sakit.. karena mau tak mau ia harus teringat lagi pada kenyataan bahwa Kak Putra menyukai Elli..

***
                Satu minggu kemudian, tim futsal SMA N 5 Bogor beserta tim medisnya, sudah berkumpul di gedung KONI untuk briefing. Yang akan turun menjadi tim utama futsal adalah Kak Riko, Diko, Kak Fadly, Andra, dan Kak Putra sebagai kapten. Berkat informasi yang ia dengar minggu lalu, ia bisa mengendalikan perasaannya sepenuhnya. Tidak memandangnya lagi dengan penuh harapan. Seperti dulu.
                “Untuk pemain cadangan, saya harap kalian selalu siap, karena ada kemungkinan akan banyak dilakukan pergantian pemain, dilihat dari lawan kita yang selama ini selalu menjadi lawan terkuat kita. SMU BBS. Posisi kalian dengan pemain utama tidak dibedakan sama sekali. Dan untuk tim medis, terima kasih karena sudah bekerja sama dengan kami. Kalian nanti akan dipasang di tempat yang ditentukan panitia. Oke, guys, selamat bertanding!”
                Tim pun bubar menuju lapangan indoor. Sebenarnya sejak tadi, Ariana sudah merasa bahwa ia sedang diperhatikan. Entah oleh siapa ia tak peduli. Ia hanya ingin fokus pada pekerjaannya. Lagipula mood-nya sudah buruk ketika melihat Elli yang tengah duduk manis di tribun penonton. Sebenarnya ada Manela juga di sana, diselang beberapa orang dari tempat Elli duduk, namun tetap saja tak merubah apa pun. Ia hanya melambai sekadarnya pada Manela, lalu kembali meneruskan jalannya ke tempat tim medis.
                Pertandingan antara tim futsal Smanli dan BBS pun dimulai. Yang melakukan kickoff adalah Kak Putra dan Kak Riko. Serempak sorakan-sorakan membahana di seluruh aula. Pada menit-menit pertama, bola masih dikuasai oleh Smanli. Kak Putra sangat lihai membawa bola, begitu juga Kak Riko. Kekuatan Smanli sedang di posisi prima. Pada menit ketiga, satu gol sudah dicetak bagi Smanli oleh Kak Putra.
                “Sabar.. sabar.. tenang.. calm.. calm..” gumam Ariana sambil mengelus-elus dadanya ketika para suporter meledak riuh saat gol pertama diciptakan. Sebenarnya ia sedang mempertahankan dirinya agar tidak terbawa suasana. Karena kalau boleh jujur, Kak Putra keren banget!
                Tiba-tiba, Blackberry-nya berdenting. Ada BBM dari Manela.

*Ri, kenapa elus-elus dada?*
Sedang mengetik pesan..
*Gak papa, kok.*
(jeda beberapa saat)
*Ri, Kak Putra gol lagi tuuh!*
(Ariana mencari sosok Manela di tribun. Ternyata gadis itu sedang melihat ke arahnya juga sambil tertawa.)
*aku gak terpengaruh lagi, kok, sama dia. Mau ngegolin kek, terserah. Itu bukan urusanku.*
(Ariana pun langsung mematikan Blackberry-nya.)

                Huh. Si Manela itu memang biangnya usil. Untuk menunjukkan kekesalannya, ia pun menjulurkan lidahnya ke arah Manela, yang ternyata kelakuannya itu disaksikan oleh Faishal, rekan sesama PMR-nya.
                “Hmm, Ri. Lo lagi ngeledekin siapa?” tanya Faishal, polos. Spontan Ariana pun menoleh dan menyunggingkan senyuman terpaksa. Ia malu setengah mati tingkah bodohnya ketahuan orang.
                “Ha ha ha.. bukan siapa-siapa, kok,” balasnya cepat. “Oya, Shal. Obat-obatan sudah kamu bawa semua, kan?”
**
            Pertandingan akhirnya dimenangkan oleh Smanli, yang otomatis menjadi juara liga pada tahun ini. Para suporter sudah berkumpul di luar aula untuk menunggu pahlawan mereka. Ketika para pemain datang, mereka langsung dikerubungi. Ariana dan Manela yang tidak ikut dalam rombongan itu pun hanya memperhatikan dari depan pintu gedung KONI.
                “Kamu gak mau kasih selamat, Ri? Kak Putra jadi bintangnya loh hari ini!” seru Manela. Mendengarnya Ariana langsung buang muka, dan tertangkap olehnya sosok Elli di tengah-tengah kerumunan itu. Dekat Kak Putra. Tepatnya, di sebelahnya.
                Mereka sepertinya sedang membicarakan sesuatu. Senyuman tak pernah lepas dari wajah keduanya. Beberapa saat kemudian, Kak Putra pun membisikkan sesuatu di telinga Kak Fadly, yang langsung mengerling penuh arti ke Elli, dan mengangguk sambil menepuk bahu Kak Putra. Lalu Kak Putra dan Elli pun keluar dari kerumunan dan pergi menuju belakang GOR. Ariana menghela napas, dan langsung mengalihkan pandangannya pada Manela.
                “Man, kamu mau pulang kapan?” tanya Ariana. Suaranya bergetar. Manela yang nyatanya sedang asyik memperhatikan Kak Riko, nampaknya tidak menyadari getaran dalam suara Ariana. Ia pun hanya menjawab seadanya bahwa ia akan pulang ketika semuanya sudah bubar.
                Ariana agak jengkel pada ketidakpedulian sahabatnya ini. Namun sebelum ia protes, tiba-tiba Kak Zaldy, seniornya di PMR, menghampiri mereka. Ariana yang memang dekat dengannya pun menyambutnya dengan hangat.
                “Kalian kok belum pulang? Nungguin siapa?” tanya Kak Zaldy. Ia mengambil duduk di sebelah Ariana, lalu mengeluarkan sesuatu dari ranselnya.
                “Ini sertifikat lomba yang kamu menangi bulan lalu, Ri. Maaf ya saya telat nyampeinnya?” kata Kak Za. Ariana menerima sertifikat itu dengan perasaan campur aduk—antara senang dan bimbang.
                “Makasih banyak, Kak. Gak apa-apa kok telat juga. Aku juga sudah lupa malah pernah ikut lomba, hehe,” balas Ariana.
                “Kamu kok di sini aja sih? Gak gabung sama mereka?” Kak Zaldy menunjuk kerumunan dengan dagunya.
                “Enggak ah, Kak. Kami lebih suka di sini. Habis di sana rame sih.”
                “Hmm.. iya, Ariana, apa kamu punya waktu?”
                “Iya, Kak. Ada. Memangnya ada apa?”
                “Bisa kamu ikut saya sebentar?”
                “Bisa..” jawab Ariana. Ia pun pamit pada Manela, dan berjanji akan kembali tak lama lagi. Kak Zaldy mengajaknya ke belakang GOR. Sebenarnya Ariana sudah was-was saat Kak Zaldy membawanya ke sana, karena seperti yang sedang terlihat, ada Kak Putra dan Elli juga.
                “Eh, Putra. Selamat ya, tadi kamu mainnya hebat sekali!” seru Kak Zaldy pada Kak Putra. Kak Putra tak langsung membalas ucapan, melainkan tertegun melihat Ariana ada di sana juga, dan melirik kikuk ke arah Elli.
                “Ah.. i..iya terima kasih banyak, Kak. Saya hanya berusaha memberikan yang terbaik,” jawab Kak Putra akhirnya, sambil curi-curi pandang pada Ariana. Setelah berbasa-basi sedikit, Kak Zaldy pun pamit kepada mereka berdua, dan membawa Ariana lagi ke tempat yang lebih nyaman untuk berbiacara. Saat mereka pergi, Kak Putra masih memandangi Ariana. Di tatapannya ada campuran antara rasa cemas dan kecewa. Saat bayangan mereka sudah menghilang, barulah ia mengalihkan perhatiannya lagi pada Elli, dan mengajaknya pergi juga menuju tempat tim berkumpul.

***
                “Apa yang mau diomongin, Kak?” tanya Ariana. Kini ia dan Kak Zaldy sedang berada di depan mushola. Di sana hanya ada mereka berdua. Setelah bimbang sesaat, akhirnya Kak Zaldy pun angkat bicara.
                “Saya tahu perasaan kamu pada Putra.”
                Ariana menelan ludah. Apa-apaan dengan kalimat pembuka ini?
                “Kenapa.. Kakak bisa berpikiran seperti itu?”
                Kak Zaldy menatap Ariana. Sejenak hening di antara mereka berdua.
                “Seperti yang kamu lihat tadi, Putra sudah bersama Elli..” katanya. “Mungkin kamu menyukainya karena ia tampan dan jago olahraga. Namun saya tak menemukan alasan bagimu untuk terus menyukainya.”
                Ariana makin tidak mengerti maksud Kak Zaldy mengatakan hal itu. Ia pun menghela napas untuk menemukan suaranya kembali. “Aku enggak ngerti apa yang Kakak omongin. Memangnya darimana Kakak tahu perasaanku? Dan kenapa pula aku enggak punya alasan untuk menyukainya lagi?”
                “Ternyata benar. Kamu memang menyukai Putra,” tembak Kak Zaldy lagi. Ada sebersit kekecewaan di matanya, yang tidak bisa dipahami Ariana karena serba ketidakjelasan ini. “Untuk alasan, seperti yang kamu lihat tadi, Putra sudah memilih Elli!”
                Ariana mulai jengkel. Tak perlu dibacakan seperti itu juga dia sudah tahu!
                “Lalu apa urusannya dengan Kakak? Perasaan ini milikku, dan akulah yang berhak memutuskan untuk tetap menyukainya atau tidak!” seru Ariana. “Dan justru, menurutku Kakaklah yang tidak memiliki alasan untuk berbicara seperti itu denganku!”
                Ariana benar-benar marah. Daritadi hatinya sudah kesal, ditambah lagi dengan topik yang sensitif ini, ia merasa kemarahannya dapat datang kembali dengan mudah. Ia pun memutuskan untuk pergi saja dari tempat itu, yang langsung dihentikan Kak Zaldy dengan mengcengkram pergelangan tangannya.
                “Apa-apaan, sih, Kak? Lepasin!” teriak Ariana sambil berusaha membebaskan tangannya. Namun Kak Zaldy malah menguatkan cengkramannya. Keduanya sama-sama dipenuhi amarah.
                “Enggak ada alasan? Kamu bodoh! Memangnya kamu tidak menyadarinya selama ini? Kamu kira apa lagi alasan saya memperhatikanmu selama ini? Apa kamu menganggap itu hanya perhatian dari senior kepada junior? Apa kamu pernah melihat saya memberikan perlakuan yang sama denganmu pada anggota lainnya? Ya, kamu mungkin sudah mulai menangkap maksudku, itu semua karena aku menyukaimu!”
                 Ariana kaget. Bukan karena ucapan Kak Zaldy, melainkan karena melihat sosok yang sedang menjadi topik utama di koridor, tak jauh dari tempatnya dan Kak Zaldy berdiri.
                Orang itu adalah Kak Putra. Awalnya ia memang diam saja sehabis mendengarkan pernyataan langsung Kak Zaldy barusan, namun setelah menghela napas dan suasana yang mulai mencair, barulah ia menghampiri Ariana.
                “Kak Zaldy, Ariana, maaf ganggu pembicaraan kalian. Tapi sebentar lagi akan ada evaluasi tim, dan pelatih meminta saya untuk menjemput Ariana. Apa bisa saya bawa Ariana saat ini?”
                Kak Zaldy pun menghembuskan napas keras, lalu pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun, meninggalkan Ariana dan Kak Putra berdua saja.
                “Maaf, ya. Saya ganggu obrolan kalian?” ucap Kak Putra. Jujur saja ia merasa bersalah. Namun Ariana hanya tersenyum manis.
                “Enggak apa-apa, Kak. Yuk kita pergi.”
                Di perjalanan menuju kantin, mereka saling diam. Tak berani menyuarakan apa pun. Terlalu bingung pada apa yang baru saja diketahui. Merasa sesak pada keheningan, akhirnya Kak Putra pun membuka percakapan.
                “Terima kasih, ya, Ariana.”
                Ariana menoleh. Jalan mereka terhenti.
                “Terima kasih? Untuk apa?”
                Karena menyukai saya, batin Kak Putra.
                “Karena perhatian dan bantuanmu selama ini. Sangat berguna, terima kasih,” ujar Kak Putra lagi, tersenyum. Ariana langsung menunduk memandangi sepatunya. Ia terlalu malu dan bingung. Hatinya kembali berkecamuk. Ia kembali bimbang. Tekadnya untuk melupakan perasaannya nampaknya sudah berlari lagi. Terlalu jauh untuk dikejar..
                “Sudah tugas saya untuk melakukannya, Kak. Jadi Kakak tidak perlu berterima kasih..” jawabnya. Suasana menjadi semakin canggung. Kak Putra juga sudah tak berani lagi memandang apalagi mengatakan apa pun pada Ariana. Niat sebenarnya hanyalah ingin berterima kasih, pada perasaan Ariana, yang tidak pernah bisa ia ucapkan karena takut membuat gadis itu berlari lagi..
                “Oh, iya, selamat ya atas kemenangan Kakak hari ini. Kakak pasti sangat senang, kan, kukira?”
                “Iya, sangat senang. Sekali lagi terima kasih, Ariana,” ucapnya, sambil tersenyum, dan tertegun karena kesadaran baru yang mendadak muncul.

*Bersambung*