Minggu, 29 Juli 2012

CERBUNG - HEAVEN


“Alhamdulillah, Ya, Allah!!”
Itulah kalimat pertama yang keluar dari bibir Aisha Nur Arsyi ketika pengumuman pemenang lomba karya tulis remaja muslim nasional dikumandangkan. Gadis kelahiran Bogor, 13 Desember 1992, ini dinobatkan sebagai penulis cerpen remaja muslim terbaik nasional 2008. Cerpennya yang berjudul Remaja-Remaja Surga berhasil mengalahkan beribu-ribu cerpen lainnya dari seluruh pelosok Indonesia. Kini ia dipersilakan panitia untuk naik ke podium untuk mengucapkan sepatah dua patah kata. Dadanya berdebar-debar tak keruan antara rasa cemas dan bahagia. Di sisi kanan bangku hadirin, ia bisa melihat banyak acungan jempol dari sahabat-sahabatnya. Senyum tulus merekah dari bibir mereka yang kemerahan. Aisha balas mengacungkan jempol dan mempercepat langkahnya naik ke podium. Di dalam otaknya, ia membayangkan betapa almarhum ayahnya akan sangat bahagia apabila  bisa melihat impiannya terkabul. Apalagi alasan utamanya untuk terus terjun di dunia tulis-menulis adalah karena permintaan ayahnya yang terakhir. Setetes air mata menyembul dari ujung matanya yang indah.
Setelah memberi sambutan yang lumayan menyihir hadirin dengan kata-katanya yang puitis, Aisha langsung dihampiri oleh para gadis remaja yang ternyata sudah benar-benar tersihir oleh karyanya. Ada yang minta tanda tangan, foto bersama, bahkan ada yang menanyakan alamat rumah. Aisha yang masih belum terbiasa dengan keadaan seperti itu, langsung menarik diri dan menghambur bersama teman-temannya keluar dari gedung teater TMII.
“Subhanallah, Aisha! Kamu juara! Cerpenmu menjadi yang terbaik se-Indonesia!!” seru Vita, gadis manis yang makin terlihar cantik ketika tersenyum. Ada juga Lia, Tara, Sarah, Raya, Andini, dan Alya di dekatnya. Aisha tak kuasa menahan haru. Ia pun langsung menangis di bahu Vita. Sahabat-sahabatnya ikut merengkuhnya dan ikut menangis bahagia juga.
“Sha, aku bangga sekali punya sahabat sehebat kamu! Padahal kamu masih enam belas tahun, tapi sudah mencetak prestasi secemerlang ini! Aku sungguh enggak bisa bayangin gimana bangganya teman-teman yang lain!” puji Lia. Bola matanya yang berwarna coklat terang bersinar seperti matahari. Aisha menghapus air matanya dan memasang senyuman manis kepada sahabat-sahabatnya. Sungguh kebahagiaan terbesar bisa mempunyai sahabat seperti mereka. Sahabat yang selalu ada dalam suka mau pun duka. Sahabat dunia akhirat.
“Terima kasih banyak, teman-teman. Kalian baik sekali. Aku beruntung sekali punya sahabat seperti kalian..” ucap Aisha, tulus. “Oh, iya. Lebih baik kita pulang sekarang. Hari semakin senja, nanti keretanya kehabisan, lho!”
***
Keesokan harinya, ketika Aisha sudah sampai di depan kelas, mendadak kelasnya ricuh tak terkendali. Hampir semua teman sekelasnya berhamburan menggamit lengannya dan membawanya masuk. Banyak diantaranya yang menanyakan kabar dan memberi selamat atas prestasi cemerlang yang ia dapatkan kemarin hari. Aisha hanya bisa tersenyum tanpa berkata-kata. Lalu ia keluar menerobos kerumunan dan menghambur ke kursi tempatnya selama ini duduk. Di sana sudah ada Alika teman sebangkunya, kini ia juga tengah tersenyum menyambut kedatangannya yang terlihat dramatis. Aisha langsung duduk di sampingnya dan balas tersenyum juga.
“Aisha, selamat atas keberhasilanmu. Maaf sekali aku enggak bisa hadir di acara penting itu. Ayahku keluar kota, dan hanya ada ibuku sendirian di rumah. Aku enggak tega ninggalin ibu sendirian. Sebenarnya ibu juga ingin sekali menontonmu, tapi karena kesehatannya buruk, aku enggak berani mengizinkannya,” ujar Alika panjang lebar membuka percakapan. Raut wajah Aisha yang ramah dan rupawan kini berubah khawatir.
“Ibumu sakit lagi, Lika? Ya, Allah.. aku jadi enggak enak.. Insya Allah sepulang sekolah aku akan main ke rumahmu untuk menjenguk ibumu!” seru Aisha. Alika tersenyum dan mengangguk meng-iyakan.
Kang Fachrullah!
Mendadak keduanya berpaling hampir bersamaan ke arah sumber suara. Dan sungguh seperti dibetot hatinya, Aisha tersentak dan langsung menunduk. Muhammad Fachrullah, anak laki-laki pertama yang pernah membuatnya begitu mendesir selain ketika namanya diumumkan sebagai penulis remaja terbaik nasional, kini tengah berdiri di sebelah Tresna, tepat di depan jendela samping tempatnya duduk. Fachrullah juga ikut berpaling dan matanya menangkap sosok jelita Aisha sekilas, dan langsung berlalu begitu saja.
“Aisha, tadi itu Kang Arul, kan?” tanya Alika membuyarkan keheningan. Aisha mengangguk. Benar-benar aneh. Perasaan apa ini? Seperti ada angin sejuk yang berdesir halus di hatinya. Seperti telah berhasil menemuka barang berharga yang telah lama hilang. Dan seperti diberikan hadiah terindah pada saat ulang tahun pertamanya...
“Ah, iya. Dia Muhammad Fachrullah, kelas 12 IPA C..” jawab Aisha, agak tertegun. Matanya menerawang ke arah sinar matahari pagi yang masih malu-malu menampakkan dirinya di timur sana. Membayangkan betapa menyenangkannya apabila bisa menjadi benda-benda yang terbang bebas di angkasa. Bisa melihat dunia secara luas dan dari sudut pandang mana saja. Bisa melihat apa saja yang dilakukan Muhammad Fachrullah di luar sana...
“Astaghfirullah! Apa yang kupikirkan?!” seru Aisha tiba-tiba. Alika hanya menatapnya heran dan geleng-geleng. Mungkin beginilah reaksi seorang penulis apabila menemukan inspirasi baru, batinnya.
***
Aisha Nur Arsyi...
                Pagi yang cerah dan indah. Indah karena pagi ini ia sudah melihat sosok jelita bidadari subuh itu. Walau masih malu-malu, ia tetap merasa senang. Ditambah lagi dengan adanya kabar tentang gadis itu yang telah mendapat gelar penulis remaja terbaik nasional. Apabila waktu bisa dipercepat sampai ia cukup umur untuk mengkhitbah gadis itu, ia pasti rela menukarnya dengan apapun. Ia takut dosa. Ia takut tidak bisa menahan perasaannya, dan kembali menjadi Muhammad Facrullah yang dulu. Muhammad Fachrullah yang seorang pendurhaka dan pendosa.
                “Assalamu’alaikum, Kang Arul,” sapa Anwar, adik kelasnya.
                “Wa’alaikumsalam, Anwar. Ada apa?” balas Arul, ramah. Anwar tersenyum dan langsung mengeluarkan beberapa lembar kertas berwarna seukuran A4 pada Arul. Sebuah tulisan cerpen, yang berjudulkan Remaja-Remaja Surga di halaman pertamanya.  Senyum puas merekah di bibir Arul. Ia menerima kertas itu dan langsung menjabat tangan adik kelasnya.
                Syukran, Anwar. Semoga Allah membalas kebaikanmu, amin,”ucap Arul. Anwar balas tersenyum dan undur diri dari perbincangan.
                “Sama-sama, Kang. Insya Allah majalah dinding bulan depan bisa lebih baik dari yang sekarang. Syukran juga atas bantuan Kang Arul yang selama ini selalu mengajari saya banyak hal. Baik dunia jurnalistik maupun keagamaan. Saya ke kelas dulu ya, Kang. Assalamu’alaikum.”
                “Wa’alaikumsalam,” balas Arul. Ia menunggu sampai sosok Anwar hilang, dan langsung mulai membaca lembaran pertama kertas itu.
                Lima sampai sepuluh menit sudah Arul membaca. Saat baru selesai, matanya mendung menahan haru. Sungguh maha karya yang luar biasa. Ia hampir tidak percaya kalau cerpen ini dibuat oleh seorang gadis remaja yang umurnya baru menginjak enam belas tahun. Alurnya mengalir lancar bagai air. Bahasa yang digunakan juga begitu halus, cerdas, dan tidak menggurui. Dibanding karya-karya emas Aisha sebelumnya, menurut Arul inilah yang paling bagus.
                “Fauzan harus membacanya..” gumam Arul. Ia memasukkan kertas itu ke dalam tasnya, sambil lalu berjalan ke pintu keluar masjid. Saat hendak memakai sepatu, tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari samping dan mengucapkan salam. Spontan Arul menoleh. Di sampingnya, duduklah Abdullah, kakak kelasnya yang sekarang sudah berstatus alumni. Lelaki berperawakan tinggi itu menyunggingkan seutas senyum ramah yang langsung disambut senyuman juga oleh Arul.
                “Wa’alaikumsalam, Kang Dullah. Ada rapat lagi, ya?”
                “Enggak. Saya mau bicara sesuatu sama kamu, Rul. Ada waktu?”
                “Tentu, Kang. Memangnya ada hal apa yang ingin dibicarakan? Kelihatannya penting sekali.” Abdullah pun menghela napas pelan, dan langsung membisikkan sesuatu di telinga Arul.
                “Saya sudah selidiki tentang orang yang mengeroyok adikmu, Rul. Teman-temanku yang tinggal dekat rumahmu semuanya tahu siapa orang itu. Namanya Agus, teman SMP adikmu. Saya memang belum terlalu yakin, tapi menurut saksi mata, ciri-ciri orang itu mirip sekali dengan Agus Hendrawan. Cowok bengal yang tergila-gila pada Aisha Nur Arsyi, siswi kelas sebelas itu. Adikmu kenal dengan gadis itu, kan?”
                Hati Arul mencelos. Ia baru ingat kalau Aisha Nur Arsyi itu adalah gadis yang disukai adiknya. Yang disukainya juga...
                “Oh.. Iya, Kang. Terima kasih banyak atas bantuan Akang selama ini. Insya Allah akan saya tanyakan langsung pada adik saya. Kesehatan dan kesadarannya memang belum pulih seratus persen, tapi walau begitu, ia sudah bisa mendengar dan berbicara sedikit-sedikit. Nanti kalau ada kemajuan, Insya Allah akan saya kabari Akang lagi. Syukran, Kang. Assalamu’alaikum.”
                “Wa’alaikumsalam,” balas Abdullah, lalu ia masuk ke masjid, meninggalkan Arul dengan segala pikiran dan dilemanya.

*Bersambung*

Berlanjut ke Heaven (Part 2)